Saat ini, terdapat 101 sentra industri batik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia

Kementerian Perindustrian terus mendorong pengembangan industri batik agar produk yang dihasilkan semakin kompetitif hingga kancah global. 
Oleh karena itu, salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menciptakan inovasi melalui kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang).

“Beberapa unit litbang kami, telah menghasilkan berbagai alat yang dapat meningkatkan daya saing industri batik nasional,” kata kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara di Jakarta, Minggu.

Ngakan menyebutkan, beberapa hasil litbang dan rekayasa yang telah dibuat oleh unit litbang di bawah BPPI Kemenperin, antara lain HAOP-Hybrid Advanced Oxidation Process (Pengolahan Air Limbah Teknologi Advance) dan Reaktor Silinder Elektro-Katalitik Alir Kontinyu (anoda: Ti/Pbo2) sebagai unit pengolah air limbah Industri Pewarna dari Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BBTPPI) Semarang.

Selanjutnya, Kain Tenun Desain Struktur Bermotif Batik dan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Dobby Elektronik dari Balai Besar Tekstil (BBT) Bandung. 

Sedangkan di Baristand Industri Padang, dilakukan penelitian pembuatan sediaan pewarna tekstil dari Gambir dan limbah Gambir, serta aplikasi dan pengembangan pigmen warna alam Gambir pada produk tekstil ramah lingkungan.

Berikutnya, mesin router kayu CNC, mesin celup warna kain model spiral, kompor cap & tulis yang telah diproduksi berbagai generasi, canting listrik, pint-art cap batik, Batik Analyzer dari Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta.

“Beberapa waktu lalu, kami menggelar pameran batik dan pameran litbang guna mendukung batik nasional untuk mewujudkan visi Batik Nusantara Mendunia di Yogyakarta,” ungkap Ngakan.

Selain menampilkan hasil inovasi dari sejumlah unit litbang di BPPI, dalam pameran tersebut juga dipamerkan produk-produk dari startup bisnis yang telah dibina oleh BPPI melalui program Innovating Yogya, di antaranya adalah tas kulit teknik marbling, kain Ecorust, boneka dari limbah kayu, produk eco print, sepatu berbahan setagen, kerajinan bonggol jagung, dan tas gunung motif batik.

“Sebagai unit yang mengemban tugas dalam penyelenggaraan di bidang perindustrian, kami perlu untuk menyosialisasikan hasil kegiatan litbang terkait pengembangan industri batik yang telah dihasilkan oleh unit kerja Balai Besar dan Baristand Industri ke masyarakat pelaku usaha batik atau pengguna teknologi,” imbuhnya.

Ngakan berharap, melalui kegiatan tersebut, diharapkan pelaku usaha batik dapat menyerap teknologi yang telah dikembangkan oleh Kemenperin. Tujuannya guna meningkatkan kapasitas dan kualitas produk yang dihasilkan, serta meningkatkan daya saing industri batik dan produk batik.

Kemenperin mencatat, sebagian besar industri batik nasional adalah sektor industri kecil dan menengah (IKM). Saat ini, terdapat 101 sentra industri batik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Jawa Barat. 

Sentra-sentra tersebut meliputi sebanyak 3.782 unit usaha industri batik yang telah menyerap tenaga kerja hingga 15.055 orang.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Kimia, Farmasi, Tekstil, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (IKFTLMATE), BPPI Kemenperin, Sony Sulaksono menyampaikan, batik Nusantara memiliki berbagai keunggulan, di antaranya motif yang beragam dengan filosofi dan nilai seni dan warisan budaya yang sangat tinggi, desain menarik sesuai tren atau mode yang terus berkembang, menggunakan pewarna alam, serta dikerjakan dengan tangan yang dimaknai sebagai batik tulis, batik cap dan kombinasi diantara keduanya.

“Dalam upaya menjaga permintaan pasar yang semakin meningkat, pemerintah terus memberikan dukungan iklim usaha yang kondusif serta mendorong penggunaan perangkat teknologi yang tepat dan cocok dalam proses produksi batik termasuk proses produksi bersih dan eko-efisiensi yang dipertimbangkan menjadi prioritas untuk diterapkan dalam industri batik nasional,” paparnya.

Meningkatnya pertumbuhan industri batik di Indonesia, dalam kurun 10 tahun terakhir, menjadikan batik dan produk batik buatan lokal mampu menguasai perdagangan pasar dunia dengan nilai ekspor mencapai USD52,4 juta atau sekitar Rp747,4 miliar sepanjang tahun 2018.