"Sudah mulai ada pesanan, dari Natuna dan Klaten. Ini menambah pendapatan mereka"

Batik karya napi di Rumah Tahanan Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau mulai diperdagangkan.

Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tanjungpinang, Syarifah Zeirina, di Tanjungpinang, Rabu, mengatakan, sejumlah pihak sudah mulai memesan batik karya para rutan.

"Sudah mulai ada pesanan, dari Natuna dan Klaten. Ini menambah pendapatan mereka," ujarnya.

Syarifah sendiri tidak menyangka para napi yang dilatih membatik sejak Agustus 2019 sampai sekarang dapat membuahkan karya yang disukai konsumen. Padahal corak batik yang dikembangkan masih berbentuk buah kemunting dan daun resam.

"Dari Natuna memesan corak berbentuk monyet," ucapnya.

Disperindag Tanjungpinang menggunakan dua ahli batik untuk melatih para napi. Para napi juga mendapat honor selama mengikuti pelatihan.

Satu napi mendapat Rp75.000 perhari. Mereka pernah mengikuti pelatihan selama tiga hari.

"Tentu mereka senang. Dapat ketrampilan, ada aktivitas menarik, dan dapat membuahkan hasil dari karyanya," tuturnya.

Sebanyak 30 napi mengikuti pelatihan membatik dan merajut tas. Pihak Rutan Tanjungpinang pun menyambut baik kegiatan Disperindag Tanjungpinang tersebut.

Selain membatik, mereka juga dilatih merajut tas. Tas karya warga binaan juga menarik dan unik.

"Respons dari Rutan Tanjungpinang, positif," katanya.

Para napi dilatih oleh Tyas, pembatik dari melajo.com, sedangkan merajut tas dilatih oleh Maryati dan Raja Farida.