Seluruh Dekranasda harus bersatu padu menjaga hasil kerajinan nusantara dan harus cinta produk sendiri

Rombongan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Garut melakukan kunjungan ke DIY dan bertemu dengan pengurus Dekranasda DIY. 

Kedatangan rombongan ini bertujuan untuk belajar dari Yogyakarta terkait pengembangan dan pelestarian batik.

Rombongan ini dipimpin oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Garut, Diah Kurniasari. Turut mendampingi Wakil Ketua Dekranasda Kabupaten Garut, Hani Diawati. 

Rombongan ini ditemui langsung oleh Wakil Ketua Dekranasda DIY, GBRAyA Paku Alam di Gedhong Pracimasana, Komplek Kepatihan, Yogyakarta pada Jumat.  

Dalam sambutannya, GBRAyA Paku Alam yang akrab disapa Gusti Putri menyampaikan, terkait kerajinan, perlu dilakukan upaya mempertahankan, memberdayakan, mengembangkan, dan mempromosikannya. Hal ini tentu untuk lebih melestarikan kerajinan hasil karya anak bangsa, termasuk batik.

“Sebaiknya kita sharing tentang batik. Soal kerajinan, kelemahan kita memang di promosi jika dibandingkan dengan negara lain. Promosi kita ini anteng-anteng saja. Padahal negara lain produknya biasa-biasa saja, tapi karena promosinya gencar malah terkenal dan dikemas bagus,” paparnya.

Gusti Putri juga mengajak agar seluruh Dekranasda bisa bersatu padu menjaga hasil kerajinan nusantara dan harus cinta produk sendiri.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Dekranasda DIY, Ronni Guritno mengatakan, sejak ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia pada 2014 silam, Yogyakarta memang semakin gencar mempromosikan batik ke tingkat dunia. 

Penetapan ini juga bukan berarti hanya Yogyakarta saja yang menjadi Kota Batik Dunia.

“Predikat ini buat Indonesia. Kami di Yogyakarta hanya sebagai pintu saja, tapi kami juga ingin semua kota mau mengembangkan batik masing-masing. Bersama kota lain melalui Jogja kami ingin menjadikan batik lebih mendunia,” imbuhnya.