Pola gerak indeks di Asia diperkirakan akan konsisten menapak rentang terbatas di sepanjang sesi perdagangan hari ini, Selasa (10/12).

Mengawali sesi perdagangan saham hari kedua pekan ini, Selasa (10/12), prospek cerah nampaknya sulit didapatkan oleh pelaku opasar di Asia. Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, sesi perdagangan saham awal pekan ini di bursa Wall Street yang justru berakhir merah akibat koreksi teknikal di tengah minimnya sentimen terkini yang hadir.

Sentimen yang jauh dari bersahabat tersebut diyakini akan dengan mudah menjalar di sesi perdagangan Asia hari ini. Pelaku pasar masih akan menantikan hasil pertemuan para pimpinan bank sentral AS, The Fed yang akan dihelat dalam dua hari mulai Selasa malam nanti (waktu Indonesia Barat).

Analis memperkirakan The Fed yang akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk berada di kisaran 1,5% hingga 1.75%.  Sementara sentimen lain yang juga menjadi perhatian investor masih datang dari perundingan dagang AS-China, di mana dalam beberapa  hari ke depan, Washington akan segera menaikkan tarif masuk atas produk China.

Serangkaian sentimen tersebut akhirnya menggiring pelaku pasar untuk sulit bertahan dalam sikap optimis. Namun juga belum menemukan landasan yang meyakinkan untuk melakukan tekanan jual yang intens. Gerak indeks akhirnya kembali terjebak di rentang sempit.

Hingga ulasan ini disuntinh, indeks Nikkei (Jepang) merosot 0,3% untuk menjangkau posisi 23.359,47, sementara indeks ASX 200 (Asutralia) melemah  0,14% untuk menjejak posisi 6.720,9, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang menurun  0,17% untuk berada di 2.085,03.

Dengan bekal sentimen regional tersebut, indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia yang akan dibuka sesi perdagangnnya beberapa menit ke depan, diyakini akan mengalami kecendrrungan yang sama untuk berada di rentang gerak terbatas.