Bea Cukai masih mendalami kasus penyelundupan tersebut. Jeratan pidana akan diberikan jika direksi Garuda terbukti bersalah.

Jajaran direksi PT Garuda Indonesia yang diduga terlibat dalam penyelundupan motor Harley-Davidson dan sepeda Brompton terancam hukuman pidana. Hukuman maksimalnya adalah 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp5 miliar.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi, mengatakan saat ini pihaknya masih mendalami kasus penyelundupan tersebut. Jeratan pidana akan diberikan jika direksi Garuda terbukti bersalah.

Baca Juga: Kepak Sayap Garuda Indonesia

"Ini kemungkinan bisa kesalahan biasa atau pidana. Kalai pidana namanya pidana penyelundupan, ada sanksinya. Ya hukumannya pidana. Tergantung tingkat kesalahannya, bisa satu tahun," kata Heru di Jakarta, Selasa, 10 Desember 2019.

Belid tersebut mencantumkan sanksi penjara minimal satu tahun dan maksimal sepuluh tahun. Pelaku juga diancam hukuman denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar.

Baca Juga:  Usai Kasus Harley Davidson, Garuda Indonesia Juga Diduga Selundupkan Ferrari

Heru menjelaskan, pihaknya sedang mendalami kasus ini. Dia meminta publik bisa bersabar menunggu hasil lengkap investigasi.

Kemenkeu bekerja sama dengan kepolisian untuk mengusut kejadian ini. "Semua, dengan aparat penegak hukum sudah biasa. Ini normal saja bagi kita, jadi ya profesional kalau ada kekeliruan akan disampaikan," tuturnya.

Ari memerintah untuk mencarikan sepeda motor Harley-Davidson sejak 2018 lalu. Transaksi pembelian dilakukan pada April 2019 melalui rekening pribadi bagian keuangan Garuda di Amsterdam.

Baca Juga:  Ini Sosok Pilot Garuda Indonesia yang Angkut Harley dan Brompton di Pesawatnya, Gajinya Wow!

Hingga akhirnya motor dibawa ke Indonesia atas nama salah satu pegawainya yang berinisial SAS pada penerbangan Garuda Indonesia menggunakan pesawat Airbus A330-900 pada 17 November 2019 lalu.

Selain Ari, Dewan Komisaris PT Garuda Indonesia juga memecat empat direksi lain karena kasus tersebut. Mereka adalah, Direktur Operasi Bambang Adisurya Angkasa, Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal, Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto, dan Direktur Human Capital Heri Akhyar.