Gamelan dipilih sebagai media yang tepat untuk mempersatukan dan melestarikan kebudayaan Jawa di Bengkulu

Pemda DIY berusaha untuk tetap konsisten terhadap UU no. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Lahir dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia. Hal tersebut juga dipertegas dalam Perdais No 3 tahun 2017 tentang Pemeliharan dan Pengembangan Kebudayaan.  

Oleh karenanya, Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY melakukan pengadaan dan pengiriman seperangkat gamelan perunggu “Pelog Sendro” kepada Paguyuban Masyarakat Jawa bengkulu (PMJB) di Bengkulu. 

Tujuan diberikannya seperangkat gamelan tersebut adalah menjalin hubungan muhibah budaya dan menggalakkan kegiatan-kegiatan yang memiliki muatan kesenian. Gamelan dipilih sebagai media yang tepat untuk mempersatukan dan melestarikan kebudayaan Jawa di Bengkulu.

Gamelan tersebut diserahterimakan secara simbolis oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di di Rumah Budaya, Jl. Bumi Ayu II, Selebar, Bengkulu, pada Jumat siang. 

Dalam kesempatan tersebut, Sultan hadir bersama dengan GKR Hemas, GKR Mangkubumi, Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji, Paniradya Pati Drs. Benny Suharsono, dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si serta Staf Ahli Gubernur DIY. 

Dalam sambutannya, Sri Sultan berujar, “Saya berharap masyarakat Jawa yang ada di Bengkulu harus bisa berpartisipasi dengan itikad baik yang tidak membeda-bedakan. 

Harus bisa membantu pembangunan di daerah ini karena bagaimanapun mereka hidup dan menjadi warga di sini. Tetap harus kompak bersama warga masyarakat disini. Harus bisa ajur-ajer menyesuaikan diri dimanapun berada."

Kedatangan Gubernur DIY dan rombongan disambut dengan pengalungan syal oleh Bujang Gadis Bengkulu kemudian disambut tari persembahan khas Melayu yaitu tari ”Sekapur Sirih” di ruang VIP Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu. 

Rombongan dari DIY tersebut disambut langsung oleh Gubernur Bengkulu Dr. H. Rohodin Mersyah, MMA beserta istri, Derta Wahyudin. Turut menyambut pula, Kepala Dinas Kominfo Bengkulu, Kepala Dinas Pariwisata Bengkulu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Bengkulu serta Perwakilan Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu (PMJB). Selanjutnya Gubernur dijamu makan siang di Ruang Cempaka I Balai Raya atau Rumah Dinas Gubernur Bengkulu.

"Kyai Udan Asih" adalah nama pemberian Sultan HB X untuk Gamelan yang diberikan kepada PMJB Provinsi Bengkulu tersebut. Kyai dimaknai sebagai benda yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Jawa. 

Sementara itu kata Udan memiliki arti hujan sebagai wujud barokah dari Allah karena air merupakan sumber kehidupan dan menjadi simbolisasi kehidupan yang akan langgeng, kemudian kata  Asih mewakili ungkapan " rasa tresno " yang berarti mempunyai rasa kemanusiaan bagi sesamanya. 

Nama ini menjadi sebuah "tetenger" yang diberikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Seperangkat gamelan perunggu " Pelog Slendro " diserahkan kepada Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu (PMJB).

Ketua PMBJ, Dr. Yanto. SH., MH dalam sambutannya menyatakan bahwa keluarga besar PMJB Prov. Bengkulu mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan seperangkat gamelan perunggu "Pelog Slendro" dari Pemda DIY. 

Melalui seperangkat gamelan inilah PMJB Prov. Bengkulu akan ikut melestarikan budaya Jawa melalui seni karawitan dan pagelaran wayang kulit.

Penyerahan gamelan dari Pemda DIY kepada Paguyuban Masyarakat Jawa Bengkulu ditandai penyerahan alat musik gesek Jawa yakni Rebab dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X kepada Ketua Umum PMJB disaksikan Gubernur Bengkulu dan tamu undangan lainnya. 

Sementara itu PMJB Prov. Bengkulu menyerahkan kenang-kenangan cincin yang berbentuk bunga Rafflesia kepada Gubernur DIY, GKR Hemas dan GKR Mangkubumi.

Sebagai penutup acara tersebut adalah pergelaran wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Wahyu Toh Jali. Acara pergelaran wayang ditandai dengan penyerahan tokoh wayang Arjuna dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X kepada ki dalang Sunarno Aji Prabowo dari Purworejo Jawa Tengah.