Ia bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan sepenuh hati, membantu Jokowi mewujudkan misi menuju Indonesia inklusif yang lebih ramah disabilitas

Perempuan Tunarungu, Menembus Batas merupakan judul buku yang banyak diminati. Apa yang tergores dan dipaparkan di dalamnya sungguh mencengangkan. Betapa tidak, sang penulis begitu fasih menggambarkan tentang perasaan seorang difabel dengan spesifikasi tak bisa mendengar, tuli, atau dikenal juga dengan tunarungu. 

Benarlah, sang penulis adalah seorang tunarungu bernama Angkie Yudistia, si cantik dengan segudang prestasi. Di dalam buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batas yang ditulisnya tersebut, Angkie Yudistia seolah ingin mengucapkan bahwa hidup tidaklah selalu semudah seperti yang diharapkan. 

Apa pun kondisi dan situasinya, masalah akan selalu ada, selalu datang setiap saat. Akan tetapi, Angkie Yudistia akhirnya meyakini, justru masalah itulah yang akan membuat dirinya menjadi lebih bijak, lebih pandai, serta lebih sigap dalam menghadapi masa depan.

Terkait buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batas, seorang penulis resensi menyebutkan tentang keraguan Angkie Yudistia yang sempat ragu saat ingin menerbitkan atau untuk merealisasikan bukunya. Angkie Yudistia, sebut di penulis resensi, menganggap sebagai beban jika mengatakan bahwa buku yang ia tulis bisa memberikan tips jitu mengenai cara memperoleh keberhasilan, sebagai generasi perempuan muda. 

Lebih jauh si penulis resensi mengatakan, pada akhirnya, konklusi yang didapat Angkie Yudistia hanyalah berharap dengan adanya buku ini, ia ingin berbagi warna-warni pengalaman, dengan menoleh kebelakang, serta melihat proses naik lalu turun, sepanjang perjalanan hidupnya sebagai perempuan tuli.

Angkie Yudistia juga berharap, semoga saja pandangan teman-temannya  mengenai tunarungu bisa berubah dan pada akhirnya bersedia untuk menyatakan bahwa semua manusia itu sama. Karena kita semua adalah bagian dari masa depan.

Buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batas tampaknya memang berangkat dari pengalaman hidup penulis, Angkie Yudistia yang tanpa disangka, divonis oleh dokter mengalami gangguan pendengaran pada saat menginjak usia 10 tahun. 

Diduga hal tersebut terjadi tak lepas dari 'kesalahan' penggunaan obat-obatan saat dia terserang beberapa penyakit, termasuk malaria. Kejadian itu sempat membuatnya terpukul dan merasa tidak percaya diri. 

Gangguan ini mulai menggerogoti sifat optimis Angkie Yudistia. Berbagai cemoohan baik langsung maupun tidak, akhirnya ia rasakan. Hanya karena kekurangannya yaitu tidak dapat mendengar lagi dengan jelas.

Namun, dukungan yang kuat dari keluarga dan orang-orang terdekat, terutama sang bunda, secara perlahan berhasil membangkitkannya dari keterpurukan. Angkie Yudistia berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Negeri 2 Bogor. 

Kemudian putri pasangan Hadi Sanjoto dan Indiarty Kaharman ini melanjutkan pendidikan dengan berkuliah di Fakultas Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta. Di kampus ini pula perempuan yang dikenal gemar menulis tersebut meraih gelar masternya pada 2010. 

Kesulitan pada masa sekolah pun berlanjut, saat ia telah menyelesaikan studi. Saat interview kerja, Angkie Yudistia selalu dihadapkan pada dinding yang sama, yang sulit dihadapi oleh para penyandang tunarungu, yaitu penggunaan  media telepon. 

Berbagai perusahaan telah Angkie Yudistia coba, namun hasilnya tetap nihil. Namun, Angkie Yudistia yang telah menghadapi berbagai rintangan saat kecil hingga beranjak dewasa, menjadikannya bermental baja. 10-20 perusahaan menolak, ia tetap semangat, tak tampak sama sekali keluh kesah, malah ia dapat menjadikannya sebagai lecutan, agar ia bisa lebih baik dan lebih baik lagi.

Gayung pun bersambut, kesempatan untuk memutar roda hidup akhirnya datang. Angkie Yudistia pun diterima sebagai humas dari perusahaan multinasional. Angkie pun tak mau berhenti sampai disitu. Ia mencoba meraih impiannya yang lain. Ia berhasil menjadi finalis Abang None perwakilan Jakarta Barat. Tidak hanya itu, ia pun menjadi duta untuk Asia Pasific Development Center Of Disability yang berhelat di Bangkok, Thailand.

Selanjutnya, semangat dan sikap pantang menyerahnya membuat Angkie Yudistia berhasil mendirikan Thisable Enterprise, sebuah yayasan sosial berbasis Entrepreneurship yang berusaha untuk membantu para difabel untuk tidak mengurung diri terus menerus dan merasa rendah diri.

Di mana seharusnya para difabel merasa bahwa mereka itu sama dengan yang lain, mereka mampu untuk mengejar apa yang mereka impikan. Di sini Angkie Yudistia berusaha berbagi pengalaman hidupnya yang berwarna, sebagai potret inspirasi bagi mereka yang membutuhkan, khususnya para penyandang tunarungu.

Staf Khusus Presiden dari Kalangan Milenial 

Angkie Yudistia kelahiran 05 Mei 1987 memang memiliki banyak talenta. Bisa jadi karena dia memang dianugerahi kecantikan dan kecerdasan. Bahkan dia pun tak takut saat terjun ke dunia politik dengan menjadi kader Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) besutan mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Nama Angkie Yudistia menjadi salah satu staf khusus yang diumumkan Presiden Joko Widodo pada Kamis (21/11/2019) lalu. "Angkie Yudistia, usia 32 tahun adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur," kata Presiden Jokowi ketika mengumumkan dan mengenalkan tujuh Staf Khusus Presiden yang baru di Istana Merdeka Jakarta. 

Dalam perkenalan itu, Jokowi menyebut Angkie adalah sosok muda yang aktif di organisasi, termasuk organisasi internasional. Jokowi lantas mempercayai Angkie Yudistia menjadi Juru Bicara Presiden Bidang Sosial.

"Saya minta Angkie juga menjadi Juru Bicara Presiden Bidang Sosial," ujar Jokowi saat itu. 

Keterbatasan yang dimiliki Angkie Yudistia, tak menghalanginya mewujudkan mimpi. Dia justru menjelma menjadi sosok perempuan dengan segudang prestasi. 

Pada 2008, perempuan yang menjalani aktivitas dengan menggunakan alat bantu pendengaran itu mengikuti ajang Abang None Jakarta dan berhasil terpilih sebagai salah satu finalis dari daerah pemilihan Jakarta Barat. 

Masih di tahun yang sama, dia juga sukses menyabet penghargaan sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008. Angkie Yudistia terus berkarya mewujudkan satu demi satu mimpinya. Pada tahun 2011, dia menelurkan Perempuan Tunarungu, Menembus Batas. Pada tahun yang sama, perempuan yang aktif berkegiatan di Yayasan Tunarungu Sehjira sejak 2009 itu kemudian mendirikan sebuah perusahaan bernama Thisable Enterprise. 

Buku keduanya yang berjudul Setinggi Langit terbit di pasaran selang dua tahun kemudian. Tak lama kemudian, tepatnya tahun 2019, Angkie Yudistia kembali meluncurkan buku ketiganya berjudul Become Rich as Sociopreneur. 

Sebelumnya, Angkie pernah bekerja di beberapa perusahaan besar seperti IBM Indonesia dan Geo Link Nusantara, hingga akhirnya memutuskan mendirikan Thisable Enterprise. Angkie Yudistia mendirikan lembaga tersebut dengan tujuan untuk memberdayakan kelompok disabilitas Indonesia agar memiliki kemampuan dan keterampilan, dan menyalurkannya ke dunia kerja, terutama dalam industri ekonomi kreatif. 

Menurut dia, saat ini kelompok disabilitas masih kesulitan dalam memperoleh pekerjaan. Angkie Yudistia berharap lewat keberadaan Thisable Enterprise, kalangan disabilitas mampu bersaing dalam dunia kerja sehingga perekonomian mereka dapat terangkat dengan baik. 

"Aku tahu sulitnya mendapatkan pekerjaan. Mengerti rasanya dengan bagaimana harus bertahan hidup di antara sulitnya akses menjadi minoritas. Tapi aku berusaha untuk selalu percaya bahwa setiap disabilitas memiliki peran masing-masing dalam pengembangan. Diakui menjadi warga yang setara adalah impian setiap disabilitas dan aku berusaha untuk menjadikan itu nyata," tuturnya.

Angkie Yudistia dan perjalanan Thisable Enterprise Thisable Enterprise kini telah berkembang menjadi sebuah grup yang membawahi Thisable foundation, Thisable Recruitment, serta Thisable Digital. Melalui perusahaan-perusahaan tersebut, Angkie menyediakan pelatihan bagi SDM disabilitas agar dapat bekerja secara vokasional dan profesional. 

Pada 2017 lalu, perusahaan tersebut menggandeng Go-Jek sebagai mitra bisnis, di mana para penyandang disabilitas di bawah naungan Thisable Enterprise disalurkan untuk menjadi tenaga pekerja pada sejumlah layanan Go-Jek, seperti Go-Massage, Go-Clean, Go-auto, maupun Go-Glam, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing disabilitas. 

Thisable Enterprise juga diketahui mengeluarkan sejumlah produk retail, khususnya di bidang perawatan tubuh, seperti sabun dan kosmetik kecantikan. 

Perempuan yang pada 2019 berhasil memperoleh penghargaan Asia's Top Outstanding Women Marketeer of The Year dari Asia Marketing Federation itu mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan Presiden Jokowi terhadap dirinya menjadi salah satu anggota Staf Khusus Presiden. 

Ia bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut dengan sepenuh hati, membantu Jokowi mewujudkan misi menuju Indonesia inklusif yang lebih ramah disabilitas. "Sudah waktunya disabilitas bukan kelompok minoritas tetapi kita dianggap setara," ucap dia.