Butuh waktu minimal satu bulan untuk jadi sebuah kain batik

Batik bukan hanya untuk memperindah penampilan seseorang. Namun, lebih dari itu batik menyimpan filosofi di tiap motifnya.

Batik Lasem dari Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, Jawa Tengah misalnya, dari tiap motif yang tertuang di lembar kain merupakan hasil akulturasi budaya Tiongkok-Jawa,

Tak heran jika melihat motif akan terlihat corak Jawa dan Tiongkok. Menariknya lagi, batik Lasem dibuat dengan cara tradisional.

Hal ini, karena dulunya para pengusaha batik Lasem adalah keturunan Tiongkok, dan dikonsumsi pula oleh kalangan Tiongkok itu sendiri. 

Namun, perkembangannya sekarang batik Lasem masih terus berkembang berinovasi dengan muncul motif beragam seperti motif latohan, Sekar Jagad Tiga Negeri, dan Gunung Ringgit.

Tasini (50), pembatik asal Desa Pancur Kecamatan Lasem menjelaskan bahwa batik Lasem sudah berkembang sejak kedatangan masyarakat Tiongkok di Lasem.

“Sudah lama saat Tiongkok datang ke Lasem. Saya belajar membatik sejak masih SD,” katanya, Kamis.

Saat ini, batik yang dia buat bermotif Gunung Ringgit. Motif ini melambangkan kelapangan rejeki. Sehingga diharapkan siapapun yang memakai batik motif ini akan mendapatkan keberkahan rezeki.

“Kalau Gunung Ringgit itu artinya uangnya banyak seperti gunung. Sehingga yang memakai batik ini diharapkan punya rejeki banyak. Ada juga latohan itu tumbuhan di laut, dan Sekar Jagad Tiga Negeri ada yang bilang itu berarti perdamaian,” papar Tasini.

Batik Lasem, jelasnya, berbeda dengan batik dari daerah lain. Sebab, warna dominan merah seperti budaya Tiongkok. Proses pembuatannya pun rumit. 

Mulai dari membuat gambar motif di atas kain sampai finishing. “Butuh waktu minimal satu bulan untuk jadi sebuah kain batik. Awalnya kain digambar dasar batik. Lalu digambar pakai canting, diblok pakai malam, diwarnai, kemudian direbus. Proses pewarnaan dilakukan empat kali minimal,” ungkap Tasini.

Saat ini di Lasem ada 30 lebih rumah produksi batik. Untuk penjualannya sudah terwadahi di Oemah Batik Tiga Negeri di Jalan Karangturi.

Agustina, seorang karyawan Oemah Batik Tiga Negeri menyampaikan, Oemah Batik ini didirikan sebagai showroom batik bagi para pengrajin batik lasem.

“Khusus Oemah Batik Tiga Negeri ini berdiri sejak 2018, untuk showroom batik Lasem. Jadi, batik yang dijual di sini berasal dari 30 lebih rumah produksi batik Lasem di sini,” ungkapnya.

Untuk harga, batik Lasem dibandrol mulai harga Rp100 ribu hingga Rp25 juta per lembar kain.

“Kalau harga itu tergantung kualitas kain, kerumitan motif dan corak. Semakin bagus kain dan padatnya motif dan corak akan semakin mahal. Ya, dari termurah Rp100 ribu dan termahal sampai Rp25 juta,” pungkasnya.