Kiprah Yenny yang merupakan anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah ini dimulai sejak memutuskan terjun sebagai wartawan pada 1997 silam.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi memiliki jajaran komisaris dan direksi. Salah seorang komisaris yang ditunjuk Menteri BUMN Erick Thohir adalah Yenny Wahid. Oleh Erick, Yenny dipercaya sebagai Komisaris Independen. Terkait penunjukan tersebut, Yenny menegaskan tidak ada kaitannya dengan faktor politik. Sebaliknya, Yenny bertekad memberikan yang terbaik untuk Garuda.

"Non-partisan, ini bukan persoalan politik, ini sama sekali bukan. Saya memahaminya sebagai sebuah kontribusi. Bukan persoalan politik, jadi kontribusi profesional yang harus diberikan untuk perbaikan Garuda ke depannya,” tandas Yenny di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Bila mencermati profilnya, Yenny bukan sosok sembarangan. Kiprah putri Presiden Keempat RI, Gus Dur ini sudah terbukti sejak lama. Perempuan yang bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974 ini merupakan seorang aktivis Islam dan politisi Indonesia.

Sepak terjang Yenny yang merupakan anak kedua dari pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah ini dimulai sejak memutuskan terjun sebagai wartawan pada 1997 silam. Yenny yang bekerja pada koran The Sydney Morning Herald dan The Age terbitan Australia ikut meliput berbagai berita tragedi kemanusiaan yang terjadi Timor-Timur (Timor Leste sekarang) dan Aceh pada rentang waktu 1997 hingga 1999.

Salah satu liputannya tentang Timor Timur bahkan memperoleh penghargaan Walkley Award. Selepas kembali ke Jakarta, Yenny juga ikut merasakan situasi mencekam saat terjadinya Tragedi 98. Namun setelah Gus Dur terpilih sebagai Presiden pada 1999, Yenny kemudian meninggalkan profesi wartawannya dan beralih ke dunia politik. Oleh Gus Dur, Yenny diangkat sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik.

Setelah kejatuhan Gus Dur sebagai Presiden pada 2001, Yenny memilih hengkang ke Amerika Serikat untuk memperoleh gelar Master's in Public Administration dari Universitas Harvard. Ia kembali ke Indonesia pada 2004 dan selanjutnya dipercaya sebagai Direktur di lembaga The Wahid Institute yang saat itu baru berdiri.

Kemudian, pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Yenny sempat mengabdi sebagai Staf Khusus Bidang Komunikasi Politik. Untuk masa periode 2005-2010, Yenny juga ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai politik yang didirikan oleh Gus Dur. 

Sayangnya, konflik antara Gus Dur dan Muhaimin Iskandar akhirnya berimbas pada karir politik Yenny. Pada 2008, Yenny dipecat sebagai Sekjen PKB setelah pertarungan merebut PKB antara Gus Dur dan Muhaimin Iskandar akhirnya dimenangkan Muhaimin Iskandar.

Yenny tak pernah menyerah meski tak lagi aktif di PKB. Ia kemudian mendirikan Partai Kedaulatan Bangsa (2008-2012), dan bersama Syahrir mendirikan Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) pada 2012. Namun kedua partai politik ini gagal menembus batas ambang parlemen.

Walau begitu, perjuangan Yenny terutama menyangkut demokrasi, pluralisme, dan toleransi keberagaman berbangsa terus disuarakan. Lewat The Wahid Institute, Yenny berusaha mewujudkan prinsip dan cita-cita intelektual Gus Dur dalam membangun pemikiran Islam moderat.

 

KELUARGA
Suami          : Dhorir Farisi
Anak            : Malica Aurora Madhura
                     : Amira

PENDIDIKAN   
SMA Negeri 28 Jakarta    (1992)
S1, Jurusan Visual, Universitas Trisakti, Jakarta
S2, Harvard Kennedy School of Government, AS

KARIR
Wartawan, 1997-1999
Staf Khusus Presiden Gus Dur, 1999-2001
Direktur The Wahid Institute, 2014-sekarang
Staf Khusus Presiden SBY Bidang Komunikasi Politik, 2006
Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa, 2005-2008
Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa, 2008-2012
Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB), 2012