Pihak Apple telah memperingatkan bahwa kinerja produksi dan pemasarannya di China yang terganggu serius oleh persebaran wabah Coronavirus.

Menjelang pembukaan sesi perdagangan hari kedua pekan ini, Selasa (18/2) di bursa Wall Street, investor nampaknya mesti bersiap menghadapi tekanan jual intens pada salah satu saham teknologi komunikasi terkemuka. Adalah saham Apple yang merupakan pabrikan gadget terkemuka dunia yang kini terancam tekanan jual intens.

Laporan menyebutkan, dalam sebuah pengumuman pihak pimpinan Apple yang memperingatkan bahwa kinerja keuangan kuartalan perusahaan raksasa yang dipimpin oleh Tim Cook itu yang tidak akan memenuhi target. Kinerja yang dibawah target tersebut sebagai konsekuensi dari penutupan aktivitas produksi dan gerai penjualan ritel di China yang berkepanjangan menyusul persebaran wabah penyakit akibat infeksi Coronavirus.

Laporan ini telah mulai  beredar di kalangan pelaku pasar pada pagi ini waktu Asia menjelang sesi perdagangan saham di Asia dibuka.  Dengan sentimen yang suram tersebut, tekanan jual diyakini akan mewarnai pola gerak harga saham Apple di bursa Wall Street setelah menjalani libur pada sesi perdagangan Senin (17/2).

Meski demikian , pola teknikal harga saham Apple terlihat masih terlihat kukuh meniti tren penguatan jangka menengah hingga kini. Grafik harian terkini berikut memperlihatkan tren penguatan jangka menengah saham Apple  yang  masih berlaku hingga kini, dan  kinerja kuartalan yang terpukul akibat Coronavirus diperkirakan sekedar menghadirkan [pola koreksi teknikal yang lumrah:

Dengan jelas grafik di atas memperlihatkan posisi candle yang masih mampu bertahan di atas batas teknikal psikologisnya (garis berwarna merah)  secara konsisten, yang sekaligus mengindikasikan masih tersedianya tekanan beli.  Namun harus diakui tren penguatan yang ada mulai kurang solid.