Secara keseluruhan, pola teknikal saham Apple terlihat masih berada dalam tren penguatan jangka menengah yang masih solid.

Sesi perdagangan di bursa Wall Street yang baru berakhir beberapa jam lalu diwatrnai dengan gerak roller coaster salah satau saham teknologi komunikasi terkemuka dunia, Apple. Menyusul peringatan yang diberikan oleh pimpinan perusahaan yang bermarkas di AS itu, pelaku pasar dengan cepat jatuh dalam tekanan jual untuk meruntuhkan saham Apple dengan sangat tajam.

Catatan menunjukkan, harga saham Apple yang sempat runtuh hingga kisaran 3% namun kemudian berhasil mengikis penurunan tersebut dalam taraf signifikan. Saham Apple akhirnya ditutup dengan gerak turun 1,83% untuk terhenti di $319 per lembarnya.

Sementara di sesi perdagangan after hours pagi ini, Rabu (19/2) di Asia, harga saham Apple tercatat berupaya melonjak tipis 0,2% untuk bertengger di kisaran $319,65.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, pimpinan Apple yang memperingatkan bahwa kinerja kuartalannya akan sulit untuk memebnuhi target yang diteteapkan sebelumnya akibat penutupan opperasi produksi dan pemasarannya di China akibat persebaran wabah Coronavirus.

China hingga kini merupakan basis produksi dan pemasaran terpenting bagi Apple.  Mandeknya perekonomian China akibat persebaran virus mematikan tersebut, membuat Apple kesulitan untuk memenuhi target yang ditetapkan sebelumnya.

Namun secara keseluruhamn, bila mencermati pola gerak harga saham Apple di sepanjang sesi perdagangan kali ini, tekanan jual pada saham Apple masih sangat terkesan temporer. Di mana usai mengalami keruntuhan hingga 3%, saham Apple mampu berbalik naik untuk mengikis penurunan secara sangat signifikan.

Grafik di atas memperlihatkan pola tekanan jual pada saham Apple yang masih sangat terkesan temporer, dan oleh karenanya ‘kiamat masih jauh’.