Melonjaknya indeks Dolar AS yang juga akan mengancam kinerja nilai tukar Rupiah akan memantik kekesalan Presiden Trump dan juga Presiden Jokowi.

Langkah dan kebijakan terkini yang diambil pemerintahan China dalam menekan imbas persebaran wabah penyakit mematikan akibat infeksi Coronavirus nampaknya telah mulai menuai hasil dalam mendongkrak optimisme pelaku pasar.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, pihak Bank Sentral China, PBoC (People Bank of China), yang bersiap mengguyur stimulus guna menanggulangi perlambatan yang mungkin ditimbulkan oleh mandeknya perekonomian akibat persebaraqn wabah Coronavirus.

Laporan sebelumnya menunjukkan, pelaku pasar di bursa Wall Street yang telah mengantisipasi langkah PBoC tersebut dengan melakukan aksi akumulasi untuk melonjakkan indeks dengan signifikan.

Namun langkah otoritas China tersebut juga menghadirkan situasi yang mencemaskan bagi  pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump. Untuk dicatat, langkah China tersebut membawa konsekuensi melemahnya  nilai tukar mata uang Yuan yang dengan sendirinya semakin mengangkat posisi mata uang Dolar AS.

Laporan terkini dari pasar valuta menunjukkan, posisi indeks Dolar AS yang telah bertengger di kisaran 99,71 atau telah terlalu dekat dengan level psikologis pentingnya di kisaran 100. Terus melonjaknya indeks Dolar tersebut mencerminkan dengan akurat mahalnya mata uang Dolar AS yang pada giliriannya akan mengikis daya saing produk AS di pasar internasional  untuk mengancam kinerja perekonomian AS secra keseluruhan sebagaimana ditakutkan Presiden Trump.

Namun kekhawatiran Trump juga bisa menjadi kekhawatiran yang sama bagi pemerintahan Presiden Jokowi di Indonesia. Hal ini mengingat terus melonjaknya indeks Dolar AS dengan sendirinya menghadirkan ancaman bagi nilai tukar mata uang Rupiah untuk terperosok dalam pelemahan.

Upaya China  yang tak mau  kalah dengan serangan Coronavirus, nampaknya akan menjadi pekerjaan rumah yang tak remeh bagi Presiden Jokowi dan juga Presiden Trump.