Moiorum adalah jenis anggrek epifit yang dicirikan tumbuh menempel pada permukaan batang atau ranting pohon

Selama lebih dari satu tahun tim inventariasasi anggrek melakukan penelitian di Taman Wisata Alam (TWA) Sorong mulai dari Maret 2018 hingga Juli 2019, tim berhasil mendapatkan temuan yang cukup menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Reza Saputra dkk. mencatat 84 jenis anggrek yang terdiri dari 69 jenis epifit, 14 jenis terrestrial dan 1 jenis holomikotropik. Terdapat 4 jenis diantaranya adalah jenis yang belum dideskripsikan secara ilmiah (suspected as new species). Salah satu diantara 4 jenis tersebut telah berhasil dibuktikan secara ilmiah dan telah diberikan nama, yaitu Dendrobium moiorum Saputra, Schuit., Wanma & Naive.

D moiorum adalah jenis anggrek epifit yang dicirikan tumbuh menempel pada permukaan batang atau ranting pohon. Anggrek ini memiliki habitat di hutan hujan dataran rendah pada ketinggian 100 mdpl pada lokasi teduh dan semi terbuka yang tidak mendapat sinar matahari langsung. Anggrek ini teramati berbunga pada bulan Februari dan Juli hingga September.

“Kedepannya, masih banyak pekerjaan mengenai konservasi anggrek di Wilayah Papua. Balai Besar KSDA Papua Barat memiliki tugas dan fungsi dalam inventarisasi potensi kawasan konservasi di Papua Barat, termasuk penelitian mengenai inventarisasi potensi jenis-jenis anggrek. Kedepannya kami akan mengumpulkan orang-orang lokal yang suka dan ingin bekerja sama dalam penggalian potensi keanekaragaman hayati di Provinsi Papua Barat, termasuk potensi jenis anggrek” tambah Ir. R. Basar Manullang, MM.

Balai Besar KSDA Papua Barat berharap, dengan adanya Anggrek Moi ini akan menumbuhkan rasa penasaran dan ketertarikan masyarakat Suku Moi untuk ikut serta dalam penggalian kekayaan biodiversitas di tanah Suku Moi, tak hanya jenis anggrek namun juga jenis flora dan fauna lainnya. Selain itu juga diharapkan masyarakat Suku Moi bersama-sama dengan Balai Besar KSDA Papua Barat mampu menjaga alam titipan yang ada saat ini untuk generasi selanjutnya. (NAP)

Epitet nama moiorum memiliki arti “Belong to Moi Tribe atau Milik Suku Moi”. Suku Moi merupakan suku asli yang memiliki hak ulayat adat di wilayah Sorong dan sekitarnya. Penamaan Anggrek Moi merupakan penghargaan kepada Suku Moi karena telah turut serta menjaga dan melestarikan kawasan TWA Sorong. Penamaan Anggrek Moi diharapkan dapat meningkatkan kebanggaan Suku Moi atas kekayaan biodiversitas yang dimiliki. Selain itu, penamaan tersebut terinspirasi oleh konsep 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi yang dikemukakan oleh Bapak Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M. Sc. Salah satu dari 10 cara tersebut adalah “Masyarakat sebagai Subjek Pengelolaan”. “Penamaan Anggrek Moi menjadi sangat penting untuk menjalin kepercayaan antara BBKSDA Papua Barat dengan Masyarakat Suku Moi dalam pengelolaan kawasan konservasi TWA Sorong” ujar Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat, Ir. R. Basar Manullang, MM.

Berdasarkan proses penilaian atau assestment status konservasi dengan kriteria IUCN Redlist (2019), dinilai bahwa jenis D. moiorum termasuk pada kategori Vulnerable (rentan). Saat ini, distribusi jenis tersebut diketahui sangat terbatas dengan ukuran populasi diperkirakan kurang dari 1000 individu. Meski TWA Sorong merupakan kawasan konservasi, namun habitat jenis tersebut masih rentan terhadap dampak kegiatan manusia.

Reza Saputra (Calon Pengendali Ekosistem Hutan BBKSDA Papua Barat) yang merupakan Corresponding Author spesies tersebut menuturkan bahwa “Konsep PEH dengan fokus spesialisasi pada satu taksa sangat baik menurut saya. Hal tersebut menjadi kesempatan yang  bagus untuk memperdalam ilmu pada satu taksa. Karena konsep PEH ini, saya mampu mengenal satu demi satu jenis anggrek pada satu kelompok. Sehingga ketika ada jenis anggrek yang tidak saya kenal di kelompok tersebut, saya dapat berpendapat bahwa jenis tersebut merupakan jenis baru. Meski begitu tetap perlu dilakukan review lebih lanjut oleh peneliti atau pakar senior. Bukan tanpa tantangan, dalam proses penelitian jenis baru ini telah melalui proses review yang cukup panjang. Keterbatasan alat, bahan dan lingkungan kerja yang berbeda dengan lingkungan peneliti tidak menjadi penghalang untuk berkarya.”