Berdasarkan data BMKG, cuaca ekstrem akan terjadi hingga Maret 2020.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjelaskan, banjir di sejumlah wilayah di Jakarta diakibatkan adanya curah hujan yang tinggi. Kali ini, banjir yang terjadi bukan kiriman dari Bogor.

"Air yang ada di sini tidak banyak sampah, artinya itu air lokal. Dan karena air lokal tidak bergolak, jumlahnya memang cukup besar sampai siaga I, bukan air kiriman," kata Anies di pintu air Manggarai, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Saat ini, kata Anies, pihaknya fokus untuk menangani korban banjir. Sebab, berdasarkan data BMKG, cuaca ekstrem akan terjadi hingga Maret 2020.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga menyatakan, jajaran Pemprov DKI langsung membangun pos evakuasi di wilayah-wilayah yang terdampak banjir.

"Membangun pos kesehatan dan pasokan kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat," ucapnya.

Anies mengaku menerima laporan bahwa banjir yang terjadi di wilayahnya pada Selasa telah merendam 200 RW lebih. Menurut Anies, jumlah wilayah terdampak banjir Jakarta diperkirakan akan terus bertambah.

"Masih bergerak terus, tapi di atas 200 RW yang terdampak dari 2.738 RW di Jakarta," kata Anies di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa.

Selain ke pintu air Manggarai, Anies juga meninjau langsung ke pintu air Karet, Jakarta Pusat, yang berstatus siaga satu atau awas.

"Kalau kita ngecek ke pompa air dekat sini, alhamdulillah semua berfungsi. Jadi begitu air mulai surut, mudah-mudahan kampung-kampung di sekitar sini bisa lebih cepat penuntasannya," jelasnya.