Pengelolaan sampah dan limbah menjadi topik sentral yang dibahas dalam pertemuan ini

Wakil Menteri (Wamen) LHK, Alue Dohong menyambut kedatangan Menteri Lingkungan Hidup Denmark, Lea Wermelin di Kantor Pusat KLHK Jakarta pada Senin 24 Februari 2020. Pertemuan ini bertujuan untuk membahas penguatan kerja sama bilateral di sektor lingkungan hidup antara Indonesia dan Denmark yang telah berjalan selama ini.

Wamen Alue Dohong memandang kerjasama lingkungan dengan Denmark sangat positif mengingat Denmark merupakan salah satu negara di dunia yang sudah sangat maju dalam hal pengelolaan lingkungan. Masalah pengelolaan sampah dan limbah menjadi topik sentral yang dibahas dalam pertemuan ini, khususnya pengelolaan sampah di lima destinasi prioritas yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia.

"Saya mengerti Denmark cukup maju dalam pengelolaan lingkungan, kami ingin membina lebih lanjut kerja sama bilateral di bidang ini, termasuk dalam pengelolaan sampah dan limbah. Pemerintah Indonesia telah menetapkan lima destinasi super prioritas wisata yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang, kami ingin agar Denmark dapat membantu pengelolaan sampah dan limbah di lokasi-lokasi tersebut, ujar Wamen.

Wamen melanjutkan jika pengelolaan limbah adalah prioritas bagi Indonesia. Pada tahun 2017 Presiden RI telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Domestik. Targetnya adalah pada tahun 2030 Indonesia telah mampu mengurangi limbah sebesar 30 persen, dan mengelola 70 persen sisanya.

Komitmen Presiden tersebut jelas Wamen telah ditindaklanjuti dengan menetapkan peraturan untuk mendorong setiap derah menyusun Kebijakan Strategi Daerah (Jakstrada). Hingga saat ini sudah kebijakan tersebut telah diselesaikan oleh 21 dari 34 provinsi, dan 353 dari 514 kabupaten dan kota. Selain itu ada 2 provinsi dan 25 kabupaten dan kota yang telah mengatur kebijakan pengurangan plastik sekali pakai. 

Kerjasama yang telah terjadi selama ini sangat diapresiasi oleh Indonesia, tercatat kerjasama yang telah berjalan selama ini seperti Program Dukungan Lingkungan Tahap 3, yang telah mendukung pengelolaan limbah diempat kota di Jawa Tengah, yaitu Cilacap, Klaten, Semarang dan Tegal. Selain itu juga terkait Nota Kesepahaman Indonesia-Denmark tentang Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkuler (circular economy) yang ditandatangani pada tahun 2017, yang kemudian ditindaklanjuti dengan dua perjanjian proyek, yaitu tentang Kerjasama Sektor Strategis dalam Ekonomi Sirkuler dan Pengelolaan Limbah Padat (proyek SSC) serta proyek tentang Sustainable Island Initiative (proyek SII) di bidang Energi dan Lingkungan.

Wamen Alue Dohong juga menyebut jika Indonesia menghargai dukungan Pemerintah Denmark pada program waste to energy Pemerintah Indonesia sesuai dengan kebijakan Percepatan Pembangkit untuk Mengubah Limbah menjadi Energi Listrik (waste to energy) yang telah ditetapkan Pemerintah Indonesia pada tahun 2018. Juga terkait dengan kerja sama tentang keanekaragaman hayati, Indonesia-Denmark juga telah memiliki kerja sama yang erat melalui MoU dalam konservasi satwa liar di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. 

Dengan kerjasama dan hubungan bilateral yang telah lama terjalin ini diharapkan Indonesia dan Denmark bisa saling bertukar pengalaman untuk mewujudkan pengelolaan lingkungan dan kehutanan yang berkelanjutan.

"Isu pengelolaan sampah juga circular economy menjadi isu penting di Pemerintah Denmark. Kami memiliki teknologi untuk itu yang digerakkan oleh sektor swasta. Kami siap kerjasama pada sektor pengelolaan sampah tersebut," ujar Menteri Lea Wermelin.