IHSG diperkirakan cenderung bergerak menguat namun dalam rentang terbatas di sesi perdagangan hari ini, Kamis (27/2).

Menjalani sesi perdagangan saham hari keempat pekan ini di Asia, Kamis (27/2), pelaku pasarterlihat masih sulit untuk melepaskan  diri dari sentimen suram persebaran wabah penyakit akibat infeksi Coronavirus. Laporan sebelumnya menyatakan, indeks Wall Street yang gagal melakuklan gerak rebpund teknikal usai dua hari sesi perdagangan sebelumnya terjungkal dalam koreksi yang sangat tragis.

Situasi dan sentimen tersebut akhirnya menjadi bekal yang jauh dari menguntungkan bagi jalannya sesi perdagangan di Asia hari ini. Laporan terkini dari jalannya sesi perdagangan memperlihatkan, tekanan jual yang masih mengintai dalam mengawali sesi perdagangan pagi ini.

Indeks Nikkei (Jepang) terlihat masih mengalami kerontokan curam 1,24% untuk kini  bertengger di kisaran 22.148,4, sementara indeks ASX 200 (Australia) terkikis 0,23% untuk menjejak kisaran 6.693,0, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) yang terlihat mencoba menggapai zona hijau dengan naik moderat 0,2% untuk berada di kisaran 2.080,83.

Serangkaian sentimen terkini yang hingap sebelumnya menyebutkan, pihak pemerintahan Presiden Trump  yang menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat masih berisiko rendah untuk terserang pandemi Coronavirus  sebagaimana kini telah menerjang China, Korea Selatan dan Jepang.

Namun pernyataan keyakinan Trump terrsebut terlihat  belum mengubah arah gerak pasar, di mana hingga pagi ini gerak harga minyak dunia untuk jenis WTI  masih kembali runtuh tajam untuk berada di kisaran $48,36 per barel.

Dengan bekal sentimen yang masih belum puloih sepenuhnya dari kepanikan aksi jual tersebut, sesi perdagangan saham di bursa efek Indonesia  yang akan dibuka beberapa menit ke depan diyakini masih sulit untuk melakukan gerak rebound teknikal yang signifikan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan hanya akan cenderung terjebak dalam rentang gerak  terbatas.