Kegiatan ini menjadi satu hal yang esensial untuk meningkatkan produksi minyak siap jual.

Menteri ESDM Arifin Tasrif memilih lebih realistis dalam mengejar produksi minyak siap jual (lifting) sebesar 1 juta barel per hari (bph). Arifin menyebut, target lifting 1 juta bph baru akan bisa dicapai dalam 10 tahun ke depan. Pasalnya, ekplorasi dan eksploitasi minyak membutuhkan sarana dan infrastruktur yang tergolong rumit sehingga membutuhkan waktu lebih lama.

“Tidak begitu mudah (kalau dipercepat), karena ada sarana-sarana yang harus dibangun, infrastruktur yang disiapkan,” kata Arifin usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana, Jakarta, Rabu (4/3/2020).

Kendala utamanya, sambung Arifin, adalah waktu eksplorasi yang membutuhkan waktu cukup panjang. Kegiatan ini menjadi satu hal yang esensial untuk meningkatkan produksi minyak siap jual. Saat ini, Kementerian ESDM mencatat 10 daerah eksplorasi yang telah memiliki investor. “Dan ini akan kita percepat,” katanya. 

Selain itu, Indonesia juga punya lebih dari 100 cekungan, yang sejauh ini baru separuhnya saja yang telah dimanfaatkan. Dengan demikian potensi minyak di Indonesia masih terbilang besar.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati juga senada. Menurut Nicke, target lifting minyak telah dibahas bersama dengan kementerian, SKK Migas, dan Presiden Joko Widodo. Semua sepakat untuk meningkatkan produksi setiap tahun hingga mencapai 1 juta barel per hari pada 2030. 

Padahal sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan percepatan realisasi lifting minyak 1 juta barel per hari, dari 2030 menjadi 2025. “Kami berharap 2025 atau lebih cepat dari itu. Kita bisa satu juta barel 5 tahun lah dari sekarang,” ujarnya, Jumat (28/2/2020).