Seluruh indeks Wall Street tercatat ambruk di atas kisaran 3% dalam sesi penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (27/3).

Gerak indeks dalam rentang tajam terlihat masih akrab di bursa Wall Street hingga sesi perdagangan penutupan pekan ini berakhir, Jumat (27/3). Dalam sesi perdagangan yang berakhir beberapa jam lalu itu, seluruh indeks Wall Street kembali jatruh dalam koireksi sangat tajam  usai mengalami serangkaian gerak naik ekstrim di beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya.

Laporan menyebutkan, pelaku pasar yang kembali tersita perhatiannya pada wabah Coronavirus yang masih semakin menyebar di Amerika Serikat. Laporan terkini menunjukkan, besaran angka kasus infeksi Coronavirus yang telah menembus kisaran 90.000 atau telah jauh melampaui kasus infeksi yang dilaporkan secara resmi oleh pemerintah otoriter di China.

Situasi tersebut untuk sementara mamaksa investor kembali jatuh dalam aksi jual panik hingga meruntuhkan indeks dalam rentang curam. Hingga sesi perdagangan ditutup, indeks DJIA runtuh 4,06% untuk berakhir di 21.636,78, sementara indeks S&P 500 merosot 3,37% untuk terhenti di 2.541,47, dan indeks Nasdaq yang terpangkas tajam 3,79% untuk singgah di 7.502,38.

Pantauan dari jalannya sesi perdagangan menyebutkan, gerak runtuh sangat tajam yang kembali menerpa saham-saham energi perminyakan menyusul ambruknya kembali harga minyak dunia. Saham-saham teknologi juga menuai nasib yang sama nahasnya di sesi akhir pekan ini untuk semakin menggelincirkan indeks Wall Street dalam jurang  koreksi yang tajam. 

Laporan menyebutkan, Presiden AS Donald Trump yang telah menandatangani paket stimulus sebesar $2 triliun beberapa saat usai sesi perdagangan di Wall Street ditutup. Hal ini membuat investor belum sempat memberikan respon positif atas  resminya paket stimulus Trump tersebut.