Lambert mengatakan, apa yang dilakukannya semata-mata adalah demi keselamatan dan kesehatan warga Kota Sorong.

Bandara Deo dan Pelabuhan Sorong resmi tertutup menjalani karantina wilayah berlaku sejak 1 April 2020. Kebijakan Wali Kota Sorong Lambert Jitmau jelas melanggar perintah Presiden Joko Widodo yang tegas menyatakan karantina wilayah alias lockdown ada di tangan pusat.

Presiden Jokowi menyatakan pemerintah memilih menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya pencegahan penyebaran Virus COVID-19. PSBB dipilih karena tidak mematikan aktivitas ekonomi. Artinya, Bandara Deo dan Pelabuhan Sorong melanggar perintah pemerintah pusat.

Jika ada kepala daerah yang nekad melakukan hal tersebut, maka terancam hukuman pidana 1 tahun penjara atau denda Rp 100 juta.

Bagaimana respons Wali Kota Sorong Lambert Jitmau? Seperti diberitakan balleonews, Lambert mengatakan, apa yang dilakukannya semata-mata adalah demi keselamatan dan kesehatan warga Kota Sorong. Dalam hal ini, penutupan bandara dan pelabuhan adalah karantina wilayah, bukan lockdown secara keseluruhan.

"Jangankan dipenjara satu tahun, dipenjara lima tahun juga saya siap. Yang penting warga saya yang ada di Kota Sorong aman dan selamat. Saya hanya menutup bandara dan pelabuhan, bukan lockdown secara keseluruhan. Kalau bandara dan pelabuhan tidak tutup, orang datang bawa virus itu kesini, kita semua yang ada di sorong ini habis. Aktivitas perekonomian di Kota Sorong tetap berjalan, toko sembako masih ada yang buka, bank juga masih buka," jelasnya.

Karenanya, Lambert berdalih, apa yang diinstruksikan Presiden Jokowi adalah demi kepentingan negara. Sebagai kepala daerah dan Wali Kota Sorong, apa yang diinstruksikannya menutup Bandara Deo dan Pelabuhan Sorong adalah demi kepentingan daerah.

"Kalau bandara dan pelabuhan tidak ditutup, maka kota sorong akan sama seperti jakarta, di mana penyebaran virus corona tidak bisa dibendung lagi. Saya tidak mau kota sorong seperti jakarta," tegasnya.

Lanjutnya, apa yang dilakukan Pemerintah Daerah ini adalah baik, semata-mata hanya ingin melindungi dan mengamankan warganya.

"Saya menutup bandara dan pelabuhan ini, tidak ada maksud lain. Biar siapa mau bilang apa lagi, saya lebih condong melindungi warga saya yang ada di Kota Sorong," ungkapnya saat ditemui di Bandara Deo Sorong, Kamis (2/4).

Dijelaskannya, sebagaimana diketahui, Kota Sorong merupakan pintu gerbang di tanah Papua dan Papua Barat. Oleh karena itu, jika dirinya lengah dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik, maka masyarakat yang ada di wilayah Sorong khususnya dan Papua Barat umumnya, yang akan menjadi korban.

"Saya tutup bandara dan pelabuhan dengan batas waktu yang tidak ditentukan. Kalau kita biarkan pesawat dan kapal masuk terus ke kota sorong, itu sama saja kita memberikan peluang kepada orang-orang yang terinfeksi virus corona masuk kesini," tandasnya.