Dokter Handoko Gunawan adalah lilin, saat banyak orang lebih sibuk mengutuk kegelapan. Terangnya menembus sekat-sekat ras dan agama, karena jiwanya merdeka

Di tengah wabah Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang menginfeksi Indonesia, sosoknya menyeruak. Penampilannya sepuh namun penuh semangat,  berhasil mencuri perhatian masyarakat. Dialah dr. Gunawan Handoko Sp.P., yang mendedikasikan ilmu dan kemampuannya untuk membantu pasien COVID-19.

dr. Gunawan Handoko Sp.P., merupakan Pulmonolog yang memiliki pengalaman 39 tahun di bidang ini. dr. Handoko Gunawan Berlatih di Rumah Sakit Grha Kedoya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Penjaringan, Jakarta Utara. 

Jebolan Universitas Indonesia tahun 1965 ini mengambil pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru). dr. Gunawan Handoko Sp.P., aktif organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 

Hal yang menarik dari kemunculan Gunawan Handoko bukan hanya semangatnya yang tinggi menangani pasien yang terpapar COVID-19, bahkan hingga pukul 03.00 Wib dini hari. Ada beberapa unggahan netizen yang mengenal Gunawan Handoko menyebutkan dedikasinya terhadap dunia kedokteran.

Salah satunya adalah tulisan singkat pesohor, Kirana Larasati tentang Gunawan Handoko dengan disertai image sang dokter yang tengah terbaring dengan selang menempel di hidungnya. 

"dr Handoko sekarang sdh di ICU. Sesak nafas. Pls pray for him."

"A very dedicated dokter, sejak WKS nya dia di Kalmantan, naik sampan mengunjungi desa2 di sepanjang sungai. Bayarannya sayur dan buah2an. Kadang2 saja ada penduduk yg berikan ayam"

Pada keterangan fotonya, Kirana Larasati meminta netizen mendoakan kesembuhan Dokter Handoko Gunawan . "Mari kita doakan lebih kuat lagi #dokterHandokoGunawan," tulisnya.

Bukan hanya Kirana Larasati, Denny Siregar pun sempat menulis tentang sosok Handoko Gunawan yang dia sebut sebagai super hero. "Kisah Handoko Gunawan, dokter ahli paru di Graha Kedoya ini adalah fakta bahwa superhero itu ada. Terangnya menembus ras dan agama," itulah yang ditulis Denny Siregar di awal tulisannya.

Selanjutnya, Denny Siregar menulis dengan sedikit mendayu, "Ketika dalam situasi sulit yang menekan, muncul dua karakter asli manusia. Pertama, mereka yang selalu mengeluh dan terpenjara ketakutan. Mereka adalah pecundang. Kedua, mereka yang bangkit dan melawan. Mereka adalah pemenang.

Kisah Handoko Gunawan, dokter ahli paru di Graha Kedoya ini adalah salah satu fakta bahwa superhero itu ada. Ia tidak berbadan tegap dengan dada bidang, berpakaian ketat dengan perut sixpack, apalagi pakai celana dalam di luar."

Selanjutnya Denny Siregar juga menulis, "Ia berusia hampir 80 tahun. Ia turun ke lapangan saat negara membutuhkan. Tubuhnya boleh renta, tapi semangatnya menyala-nyala. "Mati juga tidak apa-apa," katanya ketika anak-anaknya melarang dia terlibat dalam usaha menyembuhkan pasien yang kena corona.

Saya menahan diri untuk tidak menulis sosoknya, karena takut berita itu hoax. Tapi tidak tahan juga jemari saya menulis tentang kisahnya, meski sedikit yang bisa saya ceritakan karena saya tidak mengenalnya.

Seakan semangatnya muncul dalam setiap huruf yang saya ketik, dan berkata, "Hei, anak muda, jangan mau kalah dengan saya. Jadilah pejuang di manapun kamu berada."

Dokter Handoko Gunawan adalah lilin, saat banyak orang lebih sibuk mengutuk kegelapan. Terangnya menembus sekat-sekat ras dan agama, karena jiwanya merdeka. Ia tahu, apa yang harus ia perbuat dengan hidupnya. Ia punya tujuan.

"Semua orang pasti mati, teman," begitu kata Kareem di film Vertical Limit. "Tapi apa yang kita perbuat semasa hidup, itulah yang diperhitungkan."

Saya iri dengan orang-orang seperti dokter Handoko. Ia paham memfungsikan dirinya ketika dibutuhkan. Baginya, virus corona bukan bencana, tetapi peluang. Peluang untuk mencari amal yang berguna, sebelum ia kelak berpulang.

Doa kami untukmu, dokter. Entah bagaimana kabarmu sekarang. Maafkan kami yang muda-muda yang malah sibuk menyebarkan ketakutan, daripada berjuang. Engkaulah kabar positif, di tengah riuhnya berita negatif.

Semoga sehat, dokter. Engkau adalah kebanggaan keluarga, dan inspirasi bagi banyak orang.

Seperti secangkir kopi, dirimu hadir hanya untuk memberi kenikmatan. 

Sebarkan kabar ini, biar banyak orang - terutama untuk dokter ahli virus yang lebih sibuk ribut daripada bekerja dengan tenang - merasa tertampar.

Itu juga kalau merasa. Karena pecundang selalu menganggap bahwa dirinya adalah pemenang," demian tulis Denny Siregar.

Sosok Dokter Handoko Gunawan yang alumni SMAK I memang tiba-tiba saja menjadi perbincangan masyarakat. Pasalnya, di usianya menginjak angka 80 tahun, dokter spesialis paru ini berani terjun menangani pasien COVID-19.

Dokter Handoko Gunawan pun rela kerja lembur hingga pukul 03.00 WIB dini hari demi merawat pasien yang terpapar virus corona. Di usianya yang sudah tak lagi muda, ia mengambil posisi paling depan, atau sekarang orang sering menyebutnya di garda terdepan dalam menangani pasien yang terpapar COVID-19. 

Kemunculannya kala itu pertama di media sosial setelah foto dia tengah mengenakan alat pelindung diri (APD) di salah satu rumah sakit viral. Dokter Gunawan pun disebut sebagai pahlawan. 

Namun, tahukah Anda kalau ternyata dr Gunawan menolak pujian tersebut. "Oh tidak, aku bukan pahlawan. Pahlawan sebenarnya adalah para dokter dan paramedis yang telah meninggal dunia selama pandemi," katanya seperti laporan Riyadh Daily. 

Lebih lanjut dr Gunawan menyatakan, para pahlawan adalah perawat yang masih merawat pasien sambil menangis (karena takut) tetapi karena mereka mengambil sumpah sebelum mereka memasuki profesi ini, mereka terus melaksanakan tugas mereka. 

"Sedangkan aku hanya seorang pemandu sorak," tambahnya. 

Keluarga Dr Gunawan mengatakan kepadanya agar tidak merawat pasien yang diduga COVID-19 karena ia mungkin akan terinfeksi. Namun, keinginan itu tak bisa dia kabulkan. 

“Mereka khawatir. Mereka tahu ada risiko tinggi saya bisa terinfeksi, tetapi saya dilantik sebagai dokter. Saya tidak ingin mengesampingkan sumpah saya begitu saja.," ungkapnya. 

Bukan hanya soal sumpah profesi yang sudah ia ucapkan sebelum akhirnya terjun sebagai dokter, tetapi ia percaya bahwa Tuhan sudah mengatur semuanya. 

“Saya sempat mengatakan ini ke keluarga saya, pasrahkan saja semuanya ke Tuhan. Jika Tuhan memberi saya kesehatan, kita bisa bersatu lagi suatu hari nanti. Tetapi jika tidak, maka begitulah hidup," ucapnya menenangkan. 

Di sisi lain, dr Gunawan menceritakan kekhawatirannya pada tenaga medis yang kini tengah merawat pasien COVID-19. Mereka banyak yang tak gunakan APD yang layak dan ini membuat dirinya sedih. 

"Beberapa perawat menggigil ketakutan ketika harus mengunjungi pasien yang diduga terinfeksi COVID-19," kata dr Gunawan, yang bekerja di tiga rumah sakit swasta di Jakarta. 

"Mereka memberi tahu saya; Dok, saya punya anak. Namun, kemudian mereka menyerahkan diri kepada Tuhan," cerita dr Gunawan yang dalam kesehariannya memberikan layanan medis seputar check up kesehatan, konsultasi kesehatan, dan pemeriksaan fisik.