“Corona Virus hanyalah katalisator, cepat atau lambat ini akan menjadi normal kembali, karena dunia bukan milik kita lagi, melainkan generasi muda,” ujar Eric.

"Who would you like to have breakfast or lunch with and why?" tanya reporter Blommberg pada Eric S. Yuan, pengusaha yang selama tiga bulan belakangan berhasil menambah kekayaannya sebanyak Rp64 triliun justru di tengah wabah Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang melanda dunia.

"Ayah saya. Ayah meninggal hanya dua bulan setelah saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan memulai sebuah perusahaan. Setiap kali saya membuat kemajuan dalam karir, saya berharap bisa berbagi cerita dengannya," jawab Eric.

Nama Eric S. Yuan mungkin memang belum sepopuler Bill Gates, sang pendiri Microsoft Corporation atau pemilik jejaring sosial terpopuler dunia, Mark Elliot Zuckerberg. Eric S. Yuan bahkan baru mulai dikenal sejak tiga bulan belakangan, bertepatan dengan COVID-19 menginfeksi seluruh sendi kehidupan manusia di seluruh dunia.

Betapa tidak, saat berbagai sektor ekonomi kolaps akibat COVID-19, Chairman, President, CEO, yang juga Founder, Zoom Video Communications, Eric S. Yuan -- selanjutnya disebut Eric -- justru mendulang sukses tak terkira dengan raihan keuntungan puluhan triliun dalam waktu singkat.

Sebelum mendirikan Zoom Video Communications, Eric adalah Corporate Vice President of Engineering di Cisco, di mana ia bertanggung jawab atas pengembangan perangkat lunak kolaborasi Cisco. 

Semua kesuksesan yang diraih Eric sekarang ini tentu saja tak lepas dari doa dan campur tangan kedua orangtuanya, spesial sang ayah yang sudah tiada. Oleh sebab itu, dia merasa begitu kehilangan sang ayah justru ketika dirinya berada di puncak karier dan memiliki segalanya yang bisa diperoleh dengan uang berlimpah.

Pertengahan tahun 1990, Eric hijrah ke Amerika Serikat di mana dirinya berpikir bahwa internet merupakan gelombang masa depan.

"Pertama kali saya mengajukan permohonan visa A.S., saya ditolak. Saya tidak menyerah, hingga untuk kesembilan kalinya permohonan saya akhirnya diterima," cerita Eric.

Eric mengisahkan, pada tahun 1997 dia bergabung di WebEx di Silicon Valley yang pada saat itu hanya memiliki selusin saja karyawan. Seperti dugaannya, dalam waktu cepat WebEx tumbuh dan dan go public tidak lama setelah dirinya bergabung.

Pada tahun 2007 WebEx pun diakuisisi oleh Cisco dan dirinya ditempatkan sebagai Cisco’s Corporate VP of Engineering yang bertanggung jawab atas perangkat lunak. 

"Saya sering bertemu dengan pelanggan. Dalam percakapan saya dengan mereka, saya mengetahui mereka tidak senang dengan solusi kolaborasi saat ini, termasuk WebEx," jelas Eric.

Berdasarkan hal itulah dirinya merasa yakin bisa mengembangkan platform yang akan membuat pelanggan senang. "Jadi Juni 2011, saya memutuskan,  sudah waktunya untuk membuat solusi komunikasi video yang ketika kuliah di China sering saya bayangkan, menjadi kenyataan," ujarnya.

Pria kelahiran Tai'an, Shandong, China tahun 1970 ini menjelaskan, ketika menimba ilmu di Shandong University of Science and Technology, China, dirinya secara teratur naik kereta selama sepuluh jam untuk mengunjungi sang pacar, yang kemudian dia nikahi saat masih berusia 22 tahun. Mereka kini sudah dikaruniai tiga orang anak.

"Saya sangat benci naik kereta. Saya sering membayangkan cara lain agara bisa mengunjungi pacar saya tanpa harus bepergian. Itulah yang mendasari lahirnya Zoom," papar pria asal Xuzhou ini.

Akhirnya, tahun 2011 Eric mendirikan Zoom dan berpikir keras bagaimana produknya bisa menghadirkan sesuatu yang berbeda dari Skype milik Microsoft, Hang Outs milik Google, dan Cisco perusahaan terdahulu yang masih memimpin dalam video konferensi.

Eric juga berpikir untuk membuat sistem konferensi yang lebih ramah dan menyenangkan untuk pengguna, sampai saat ini akhirnya Zoom dikenal dengan layar belakang virtualnya yang bisa diubah seolah-olah berada di pantai atau di depan jembatan Golden Gate. Agaknya itu menjadi ciri khas Zoom dibandingkan aplikasi yang lain.

Eric mengalami masa sulit dalam pembuatan Zoom, ia sempat diragukan hingga tidak bisa meyakinkan investor mana pun untuk mendukung usaha barunya, jadi dia meminjam uang dari teman dan keluarga untuk meluncurkan aplikasi. Berbagai penolakan yang tidak terhitung jumlahnya ia terima, tetapi pada dasarnya mempunyai daya juang yang tinggi hal yang dianggap mustahil akhirnya bisa diterapkan.

Bahkan ketika sang istri sempat mempertanyakan keputusan Eric meninggalkan Cisco ketika dirinya sudah memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan tersebut. Akan tetapi, dengan penuh keyakin Eric berkata bahwa dirinya tahun ini akan menjadi perjalanan yang panjang dan sulit, tetapi jika tidak mencoba, maka ia akan menyesal sumur hidup.

Setengah berpromosi Eric menyebut bahwa Zoom adalah platform kelas satu, terjangkau, all-in-one untuk konferensi video, konferensi audio, konferensi web, dan IM/kehadiran. Zoom, jelas Eric juga berfungsi pada perangkat seluler dan desktop, dan di ruang konferensi. 

"Zoom terjangkau, mudah digunakan, dan sangat terukur, sehingga dapat mendukung kelompok kolaborasi yang terdiri dari sedikitnya dua dan sebanyak 500 orang, semuanya dalam bentuk video. Kami juga memiliki platform webinar video yang mendukung streaming ke pemirsa tidak terbatas," urai Eric.

Tak tanggung-tanggung, setelah membangun Zoom yang selalu ingin dia kisahkan pada sang ayah yang sudah tiada, lebih dari 40 insinyur memilih ikut dengan dirinya dalam usaha barunya tersebut.

"Kami meluncurkan platform Zoom pada tahun 2012. Sekarang, sedikit lebih dari lima tahun kemudian, kami telah menyelenggarakan lebih dari 20 miliar menit pertemuan tahunan, ini artimya naik dari 6,9 miliar tahun lalu dan basis pelanggan kami mencakup 1/3 dari Fortune 500 dan 90 persen dari 200 universitas AS," papar Eric menceritakan kelebihan Zoom.

Tak hanya itu, katanya, Zoom juga memberi organisasi dan individu cara yang lebih cepat untuk berkomunikasi relatif terhadap pertemuan khusus audio, obrolan, dan email, dan itu tidak dibatasi oleh geografi, sehingga karyawan memiliki lebih banyak fleksibilitas untuk bekerja dari rumah. Karena memungkinkan orang bertemu langsung, dan memberikan dukungan untuk berbagi layar, itu benar-benar katalis kolaborasi, dan membantu membangun tim lintas geografi. 

"Zoom memiliki jangkauan penggunaan yang sangat luas. Faktanya, Zoom digunakan hari ini oleh pengembang untuk menulis kode bersama, oleh dokter untuk mendiagnosis pasien secara bersama-sama, digunakan oleh pendidik untuk menggelar kelas jarak jauh, pengacara untuk menengahi atau mewawancarai saksi, dan oleh aktor untuk melakukan latihan virtual sebelum melakukan syuting," jelas Eric.

Lalu, bagaimana seorang Eric menggunakan kesuksesan untuk membawa kebaikan bagi dunia?

Menurut Eric, keberhasilan Zoom sebagai solusi telah membawa banyak hal baik bagi dunia. Dengan membiarkan orang bertemu langsung, itu mengurangi isolasi dan meningkatkan kohesi tim. Penelitian telah menunjukkan bahwa bahasa tubuh dan ekspresi wajah mencapai sebanyak 70% dari komunikasi, sehingga dalam hal itu, Zoom mendukung komunikasi yang lebih baik. Zoom sering digunakan untuk membantu orang. 

"Misalnya, ini digunakan oleh Project ECHO untuk membawa layanan kesehatan ke lingkungan pedesaan di seluruh dunia, dan dalam pendidikan itu memungkinkan siswa yang tidak bisa masuk kelas untuk berada di kelas melalui Zoom," katanya.

Zoom, lanjut Eric, juga telah membawa kebaikan bagi dunia sebagai sebuah organisasi. Bahkan, salah satu nilai inti Zoom adalah 'Peduli.' 

"Kami berharap karyawan kami peduli dengan komunitas, perusahaan, rekan tim, pelanggan, dan diri mereka sendiri. Kami tidak ingin filosofi Peduli kami menjadi satu kali yang dijelaskan dalam pelatihan karyawan dan kemudian tidak pernah dibahas lagi, jadi itu dipasang di dinding lobi Zoom di setiap lokasi, itu adalah pengulangan yang umum di tangan kita semua rapat, dan itu adalah inti dari pekerjaan di Zoom," katanya.

Eric mengaku, bersama rekan-rekannya yang ikut mendirikan Zoom membantu memastikan bahwa Zoom terdiri dari merawat orang-orang yang dimulai dengan proses perekrutan. 

"Pada saat itu, kami mengevaluasi kandidat apakah kami percaya mereka dapat merangkul nilai Perawatan dan memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Jika mereka merangkul nilai inti Peduli kita, dan ingin memberikan kebahagiaan, maka mereka akan termotivasi dan akan bekerja lebih keras untuk rekan tim dan pelanggan mereka," paparnya.

Jumlah kekayaannya yang kini berubah drastis sejak pandemi COVID-19 dan membuatnya masuk ke jajaran orang terkaya di dunia ternyata tak mengubah kesederhanaan yang dimiliki Eric. Dia bahkan dikenal tidak sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Selama lima tahun belakangan, Eric  terhitung hanya delapan kali melakukan perjalanan kerja.

Eric bahkan mengatakan kekayaan barunya tidak begitu menggairahkan, mungkin jika ia masih berusia 25 tahun akan sangat bersemangat dengan hal itu, namun menginjak hampir kepala 5 uang tidak begitu memberi kebahagian untuk dirinya. 

Eric berharap perubahan seperti ini bukan hanya sementara melainkan permanen apalagi melihat millenial yang sadar betul bagaimana harus menyelesaikan pekerjaan tanpa harus pergi ke kantor.

“Corona Virus hanyalah katalisator, cepat atau lambat ini akan menjadi normal kembali, karena dunia bukan milik kita lagi, melainkan generasi muda,” ujar Eric saat diwawancarai The Telegraph.

Untuk kalangan muda, Eric memiliki lima pesan sebelum memulai usaha, yaitu:

1. Meskipun perjalanan awalnya panjang dan sulit, itu juga menyenangkan dan mengasyikkan. Jangan takut untuk memulai - lakukan saja!

2. Anda tidak perlu mempekerjakan orang-orang yang paling memenuhi syarat di atas kertas; alih-alih, Anda harus mempekerjakan mereka yang memiliki motivasi diri dan mental belajar mandiri.

3. Budaya perusahaan Anda adalah hal #1 yang paling penting untuk diperbaiki. Segala sesuatu yang lain mengalir dari sana.

4. Jika karyawan Anda tidak bahagia, tidak ada hal lain di perusahaan Anda yang berjalan dengan baik.

5. Temukan investor yang ingin berinvestasi pada Anda, tidak hanya dalam bisnis Anda.