-Sissi telah membungkam perbedaan pendapat, memenjarakan lawan-lawan politik Islamis, aktivis sekuler, jurnalis, bahkan penari perut.

Presiden Mesir, Abdul Fatah el-Sisi kembali menunjukkan sikap otoriter dan represifnya. Kali ini, ia 'membungkam' seorang dokter yang mengkritik kebijakan pemerintah Mesir dalam menangani Pandemi COVID-19.

Seperti dilansir The Associated Press (AP), si dokter ditangkap setelah menulis artikel tentang sistem kesehatan Mesir yang rapuh. Dokter itu mengungkap kondisi kekurangan alat medis saat Mesir berjuang melawan pandemi virus Corona.

AP juga melaporkan, ketika pihak berwenang Mesir memerangi wabah Corona yang kasusnya terus bertambah, di sisi lain badan-badan keamanan juga membungkam kritik terhadap penanganan krisis kesehatan oleh pemerintahan Presiden Abdel Fattah el-Sissi.

Sebelum kasus di atas mencuat, menurut catatan sebuah kelompok HAM, setidaknya 10 dokter dan enam wartawan telah ditangkap oleh El-Sissi sejak virus itu pertama kali menyerang Mesir pada Februari lalu.



"Petugas kesehatan di Mesir telah ditangkap, diskriminalisasi, dan dituntut hanya karena berani mengungkapkan masalah keamanan pribadi mereka," ujar kelompok tersebut.

Kelompok HAM menyebut, pihak berwenang di Mesir selama ini menggunakan tuduhan yang bias seperti alasan penyebaran berita palsu dan terorisme untuk menangkap dan menahan petugas kesehatan secara sewenang-wenang.

"Sejak Maret hingga Juni, sudah ada delapan petugas kesehatan yang ditangkap oleh Badan Keamanan Nasional Mesir."

Salah satunya adalah penangkapan seorang dokter berusia 26 tahun, Alaa Shaaban Hamida. Alaa diketahui ditangkap pada 28 Maret di rumah sakit tempatnya bekerja di Alexandria.

"Alaa, yang sedang hamil, saat ini ditahan dalam penahanan pra-persidangan atas tuduhan keanggotaan dalam kelompok teroris, menyebarkan berita palsu, dan kesalahan penggunaan media sosial," tambah kelompok HAM.

Petugas kesehatan lainnya mengatakan mereka telah diperingatkan oleh administrator untuk tetap diam atau menghadapi hukuman.

Ada pula seorang koresponden asing yang telah meninggalkan negara itu, karena takut ditangkap, dan dua lainnya telah dipanggil untuk ditegur karena "pelanggaran profesional."

Direktur Penelitian dan Advokasi kelompok HAM untuk Timur Tengah dan Afrika Utara mengatakan, kampanye penahanan petugas medis bukan hanya merusak kebebasan berekspresi warga, namun juga telah melumpuhkan upaya Mesir dalam mengatasi krisis kesehatan akibat pandemik COVID-19.

Hingga saat ini, pemerintah Abdel Fattah el-Sissi sendiri belum menanggapi tuduhan kelompok HAM tersebut.



Pada bulan lalu, Asosiasi Medis Mesir memperingatkan, Mesir akan mengalami kehancuran total sistem perawatan kesehatannya.

Berdasarkan data, hingga Rabu (17/6), sudah ada 73 dokter di Mesir yang meninggal dunia karena terinfeksi virus corona baru.

Pemerintah Mesir selama ini dikritik karena kurangnya pasokan alat pelindung diri bagi petugas kesehatan.

Per Senin (6/7) Kementerian Kesehatan Mesir telah mencatat 76.253 kasus infeksi Corona, termasuk 3.343 kematian, tertinggi di kawasan Afrika.

Sekarang tindakan keras telah meluas ke para dokter yang berbicara di depan umum tentang kekurangan alat pelindung diri (APD) atau mempertanyakan jumlah resmi infeksi kasus Corona.

Seorang petugas pers pemerintah tidak menanggapi permintaan komentar atas penangkapan dokter dan jurnalis, tetapi mengirimkan kepada AP sebuah dokumen berjudul "Realita mengalahkan kejahatan palsu," yang merinci apa yang dikatakan sebagai keberhasilan El-Sissi dalam meningkatkan ekonomi dan perang melawan terorisme.

Sebagai catatan, pada 2013, El-Sissi, sebagai menteri pertahanan, memimpin kudeta militer terhadap presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis, Mohamed Morsi, setelah pemerintahannya yang singkat memicu protes nasional.

Bertahun-tahun sejak itu, El-Sissi telah membungkam perbedaan pendapat, memenjarakan lawan-lawan politik Islamis, aktivis sekuler, jurnalis, bahkan penari perut.