Al-Sultan Abdullah menghargai peran Rusdi Kirana sepanjang tugasnya sebagai Duta Besar Republik Indonesia ke Malaysia khususnya saat lawatan Negara Seri Paduka Baginda berdua ke Jakarta dan Yogyakarta pada 26-29 Agustus 2019

Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana didampingi istri Iesien Rusdi Kirana pamit ke Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah dan istri Tunku Hajah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah di Istana Negara, Kuala Lumpur, Senin (06/07/2020).

Sebelumnya, Istana Negara dalam pernyataannya mengatakan Rusdi Kirana secara resmi telah bertugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia ke Malaysia yang ke-16 pada 17 Agutsus 2017 dan akan mengakhiri penempatannya di Malaysia dan direncanakan pulang ke Indonesia, Kamis (09/07/2020).

Al-Sultan Abdullah menghargai peran Rusdi Kirana sepanjang tugasnya sebagai Duta Besar Republik Indonesia ke Malaysia khususnya saat lawatan Negara Seri Paduka Baginda berdua ke Jakarta dan Yogyakarta pada 26-29 Agustus 2019. 

Rusdi Kirana juga telah mengkoordinasikan beberapa lawatan penting seperti kunjungan resmi Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ke Malaysia pada 8-9 Agustus 2019 dan kunjungan resmi Perdana Menteri Malaysia ke-7, Tun Dr. Mahathir Mohamad ke Indonesia pada 28-29 Juni 2018.

Rusdi Kirana Bersama Sang Isteri Iesien Rusdi Kirana Saat Berpamitan pada Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah dan istri Tunku Hajah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah karena Tugasnya Sebagai Dubes RI untuk Malaysia Sudah Berakhir - Foto: Antara

Al-Sultan Abdullah mengatakan bahwa Indonesia adalah sahabat yang akrab dan tetangga yang penting. Menurutnya, Malaysia amat gembira jalinan hubungan diplomatik kedua-dua negara sejak 63 tahun yang lalu kini sudah menjadi begitu istimewa, harmoni serta berada pada tahap tertinggi di semua peringkat.

Raja Malaysia mengatakan, sebagai dua negara bertetangga yang dekat dan pendiri ASEAN, Malaysia akan terus komitmen untuk memperkukuh hubungan dan kerja sama dengan Indonesia ke tahap yang lebih komprehensif. 

Dia turut mengharapkan agar kerjasama yang ada khususnya dalam hubungan ekonomi bilateral dapat dikukuhkan dan usaha ke arah integrasi ekonomi ASEAN dapat dicapai selaras dengan pembentukan komunitas ASEAN.

Seri Paduka Baginda turut menyentuh isu-isu bilateral yang lain seperti kerja sama dalam menangani dampak Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19, repatriasi rakyat kedua negara, pendirian Community Learning Center di Malaysia, pemeliharaan dan kesejahteraan nelayan kedua negara serta kerja sama investasi dan perdagangan. 

Al-Sultan Abdullah menyatakan kepentingan bagi kedua negara untuk meningkatkan kerjas ama dalam bidang investasi dan perdagangan agar potensi penuh kedua negara dalam sektor ekonomi dapat dicapai.

Rusdi Kirana merupakan pengusaha nasional yang dikenal sebagai pemilik maskapai Lion Air. Tarif penerbangan ini dikenal murah. Slogan mereka "Kami membuat masyarakat terbang". 

Penerbangannya menjangkau bandara-bandara besar di Indonesia dan negara-negara sekitar Indonesia. Maskapainya, sering dikeluhkan para penumpang. Lion dikenal sebagai Maskapai penerbangan yang sering delay berjam-jam dengan alasan gangguan operasional. Akan tetapi, Lion tidak ditinggalkan penumpangnya, meski sering delay dan kecewa. 

Pada 19 Januari 2015, ia dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Rusdi terjun di bidang politik juga. Sejak 12 Januari 2014, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa.

Apa yang sudah diraih Rusdi Kirana tak lepas dari tekad dan kerja kerasnya yang berakhir manis. Dia bahkan pernah menjadi seorang calo tiket, sebuah 'pekerjaan; berkonotasi negatif yang justru membawanya menjadi pengusaha transportasi berskala internasional. 

Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 17 Agustus 1963 ini dibesarkan dari keluarga pedagang. Sejak kecil dia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan mudah bergaul. Namun, ia juga didik untuk hidup hemat dan kerja keras.

Saat menjadi mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila, Jakarta, Rusdi  memulai karier bisnisnya. Ia menjadi calo tiket pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kariernya di sini secara perlahan mulai naik. Pada tahun 1990, ia bersama kakaknya, Kusnan Kirana, memulai bisnis biro penjualan tiket dengan nama biro Lion Tour.

Bisnis penjualan tiket Lion Tour berkembang pesat. Pada tahun 2000, saat usianya memasuki ke 37 tahun, dengan modal 10 juta dolar AS, Rusdi Kirana membuka bisnis penerbangan dengan nama Lion Air sekaligus penggagas biaya penerbangan murah dengan tagline-nya We Make People Fly.

Rusdi menorehkan sejarah dalam bisnis penerbangan. Ia memesan 230 pesawat dari pabrikan Boeing senilai Rp195,2 triliun. Dunia pun kembali tercengang dengan pesanan 234 pesawat dari pabrikan Airbus senilai Rp230 triliun. Rusdi berambisi memiiliki memiliki 1.000 pesawat untuk menggerakkan bisnis penerbangannya.

Lion Air Group yang dipimpinnya, membawahi beberapa anak perusahaan yaitu Lion Air, Wings Air, Batik Air, Malindo Air dan Thai Lion Air. Awal tahun 1990an, Rusdi membuka tour travel bernama Lion Tour. Dia mengaku pernah menjadi calo tiket.

Berbekal modal awal US$10 juta, pada oktober 1999, Rusdi memulai usaha penerbangannya. Dalam tempo enam tahun, Lion sudah memiliki 24 pesawat yang terdiri dari 19 pesawat jenis MD80 dan 5 jenis pesawat DHC-8-301. Dari jumlah penumpang, Lion meraih 600.000 orang lebih per bulan atau menguasai 40% dari seluruh segmen pasar. Tahun 2004 Lion Air menempati posisi kedua, setelah Garuda Indonesia, dalam hal jumlah penumpang yang diangkut.

Sukses bisnis penerbangannya ini mengantarkan Rusdi, pada tahun 2012, berhasil menempati peringkat 33 dari 40 orang terkaya di Indonesia. Padahal jauh sebelumnya, Rusdi Kirana seorang calo tiket dan penjual mesin tik yang hanya menghasilkan Rp95.000 per bulan.

Sukses di dunia usaha, Rusdi mulai melirik dunia politik. Pada tahun 2013, Rusdi hampir mau ikut peserta konvensi calon presiden  yang digelar Partai Demokrat. Tapi Rusdi akhinya memilih bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Rusdi mengaku memiliki utang kepada mantan Ketua PKB Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tidak tanggung-tanggung, Rusdi didaulat menjadi Wakil Ketua Umum mendampingi Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 2014-2019.

Peran Rusdi di PKB sangat signifikan dalam perolehan suara PKB saat pemilu 2014 lalu. Rusdi dibilang sebagai penyandang dana partai sarungan ini. Selain itu, Rusdi juga ingin menggerakkan ekonomi kerakyatan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan pendukung utama PKB.

Pada pilpres 2014, Capres yang didukung PKB memperoleh kemenangan. Seiring dengan itu, presiden terpilih Joko Widodo akhirnya meminta Rusdi Kirana menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2014-2019.