Walau panitia kampanye memeriksa suhu tubuh setiap orang yang hadir dan membagikan masker secara gratis, banyak peserta kampanye termasuk Donald Trump sendiri tidak memakai masker

Pemerintah Negara Bagian Oklahoma, Amerika Serikat (AS) menyebut, kampanye terbuka Presiden Donald Trump pada Juni lalu di Tulsa turut memicu lonjakan kasus baru Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 di wilayah itu.

Hingga Rabu, (08/07/2020) kemarin, Pemerintah Tulsa mencatat rekor penemuan kasus COVID-19 baru sebanyak 266 pasien. Lonjakan penularan tersebut berlangsung ketika pemerintah Tusla mencatat penurunan kasus baru di kota itu selama dua pekan terakhir.

"Sangat mungkin bahwa peristiwa penting dalam beberapa pekan terakhir berkontribusi (pada lonjakan kasus COVID-19)," kata Direktur Departemen Kesehatan Tulsa, Bruce Dart, saat ditanya wartawan apakah lonjakan infeksi baru-baru ini disebabkan oleh kampanye Donald Trump.

Kampanye Donald Trump pada 20 Juni lalu mendapat kecaman karena mengabaikan protokol kesehatan di tengah pandemi COVID-19.

Saat itu, Donald Trump menargetkan sekitar 60 ribu peserta datang ke kampanye yang digelar di ruangan tertutup tersebut. Sayangnya, panitia kampanye tidak menerapkan aturan menjaga jarak sosial (social distancing) dan penggunaan masker sesuai protokol kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO).

Walau panitia kampanye memeriksa suhu tubuh setiap orang yang hadir dan membagikan masker secara gratis, banyak peserta kampanye termasuk Donald Trump sendiri tidak memakai masker.

Padahal, sampai saat ini AS masih dihantui tren penularan COVID-19 yang meningkat signifikan. Dalam sehari, pejabat kesehatan AS masih menemukan puluhan ribu kasus baru. Beberapa hari setelah kampanye Tulsa itu, sejumlah panitia tim kampanye Trump juga dinyatakan positif terinfeksi COVID-19.

"Dua hari terakhir kami menemukan hampir 500 kasus corona baru dan kami tahu bahwa ada beberapa acara besar kurang lebih dua pekan lalu yang sekiranya berhubungan. Jadi kami berusaha menghubungkan titik-titik ini," kata Dart seperti dikutip AFP.

Berdasarkan statistik Worldometer per Kamis (09/07/2020), AS masih menjadi negara dengan kasus dan kematian akibat COVID-19 tertinggi di dunia. Negeri Paman Sam tersebut tercatat memiliki lebih dari 3,1 juta kasus COVID-19 dengan 134.862 kematian.