Mayoritas korban diancam akan dijemput polisi, dikenakan hukuman kurungan penjara dan denda puluhan juta jika tidak mentransfer uang sesuai permintaan pelaku. 

Dirjen Bea Cukai, Kementerian Keuangan, Heru Pambudi kembali dalam sorotan setelah akhir tahun lalu namanya sempat ‘naik daun’. Tujuh bulan berlalu, ternyata Dirjen Heru belum mampu menuntaskan  perkara penyelundupan motor Harley dan sepeda Brompton lewat pesawat Garuda Indonesia. Padahal, kasus yang diduga melibatkan mantan Dirut Garuda Indonesia, Ari Ashkara ini sempat menjadi pergunjingan publik, Desember 2019.

Terlepas dari masih menggantungnya perkara Harley-Garuda itu, nama Heru Pambudi ternyata kerap dicatut oleh sindikat penipu. Ujung-ujungnya, pencatut nama Heru meminta sejumlah uang dari para korbannya. Bahkan untuk awal 2020 saja, jumlah laporan penipuan di Bea Cukai sudah mencapai 238 laporan.

"Jika tidak diatasi, dalam tahun ini bisa mencapai sekitar 3.000 laporan," ujar Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Syarif Hidayat dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Sementara tahun 2019, Ditjen Bea Cukai menerima sebanyak 1.501 laporan penipuan, naik dari tahun 2018 sebanyak 1.463 laporan. Syarif mengatakan, penipu kerap menggunakan identitas pejabat Bea dan Cukai dalam aksinya. Tak tanggung-tanggung, identitas Dirjen Bea Cukai Heru Pambudi disebut paling sering dimanfaatkan.

Terdapat beberapa modus yang sering digunakan para penipu. Modus pertama yaitu menawarkan barang sitaan Bea Cukai, tanpa pajak, black market, atau barang kapal melalui media sosial. "Modus ini dilakukan melalui penawaran kepada siapa saja secara acak lewat email, Whatsapp, Facebook, hingga instagram," ujar Syarief. 

Untuk menjerat korban, pelaku biasanya menjual barang dengan harga murah yang tidak wajar dengan dalih barang tersebut adalah barang black market yang akan dikirim tanpa melewati pemeriksaan Bea Cukai. Kepada pembeli, pelaku tidak memberikan nomor resi atau memberikan resi palsu. Oknum yang mengaku sebagai petugas Bea dan Cukai kemudian menghubungi korban dan menyatakan bahwa barangnya ditahan, lalu meminta pembayaran dengan nominal tertentu ke rekening pribadi pelaku.

Syarif memaparkan, mayoritas korban diancam akan dijemput polisi, dikenakan hukuman kurungan penjara dan denda puluhan juta jika tidak mentransfer uang sesuai permintaan pelaku. 

Modus kedua yaitu lelang fiktif. Di sini, pelaku menawarkan lelang barang kiriman bea cukai melalui SMS berantai. Lelang barang ini dilakukan dengan harga murah, yang biasanya disertai dengan embel-embel sitaan bea cukai, barang black market, riskon cuci gudang, dan sebagainya. 

Syarif menegaskan, Bea Cukai tak pernah melakukan lelang secara tertutup. Lelang resmi akan selalu diumumkan melalui akun resmi institusi. 

Modus ketiga, kiriman barang dari luar negeri tertahan. Pelaku berkenalan dengan korban melalui media sosial. Setelah beberapa lama, pelaku mengirimkan barang kepada korban. Kemudian, pelaku lainnya yang mengaku sebagai petugas Bea dan Cukai menghubungi korban dan menyatakan barang ditahan karena nilainya melebihi batas pembebasan. Korban kemudian diminta mentransfer sejumlah uang agar barang bisa diterima. "Modus ini paling banyak digunakan dengan motif asmara dan kaum hawa yang paling banyak terkena," ucap Syarief. 

Modus keempat yaitu teman ditahan karena membawa uang. Penipu berkenalan dengan korban melalui media sosial. Setelah beberapa lama, kemudian pelaku menyatakan ingin datang ke Indonesia. Pelaku yang kemudian mengaku sudah sampai di Indonesia menghubungi korban dan menyatakan sedang ditahan Ditjen Bea dan Cukai karena membawa uang berlebih. Setelah itu, penipu akan menghubungi korban dan meminta ditransferkan sejumlah uang agar dirinya bisa dibebaskan. 

Modus kelima, penipuan berdalih kiriman diplomatik tertahan. Penipu berkenalan dengan korban melalui media sosial, lalu mengaku telah mengirimkan barang berharga kepada korban melalui kiriman diplomatik. Untuk meyakinkan korban, pelaku kadang membuat web tracking seolah barang betul tertahan di Bea Cukai. Selanjutnya, korban diminta mentransfer sejumlah uang agar paket bisa diteruskan kepada korban. 

Modus keenam yakni jasa penyelesaian kasus tangkapan Bea Cukai. Penipu mengaku sebagai pejabat Bea Cukai dan menawarkan jasa membantu penyelesaian kasus serta mengembalikan barang yang telah disita Bea Cukai. 

Lalu, bagaimana cara agar bebas dari modus penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai? Syarief menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, dengan mengenali rekening yang digunakan pelaku. Untuk diketahui, pembayaran bea masuk dan pajak impor langsung ke rekening penerimaan negara menggunakan dokumen Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak (SSPCP). 

Kedua, dengan memanfaatkan laman pengecekan di www.beacukai.go.id/barangkiriman untuk mengetahui apakah kiriman dari luar negeri benar-benar ada. 

Ketiga, melapor kepada Bea Cukai bila dihubungi oleh oknum yang mengaku sebagai petugas Bea Cukai.