Dua minggu kemudian, ketika beberapa negara di dunia sudah menerapkan karantina wilayah, Presiden Jair Bolsonaro mengkritik penutupan sekolah dan bisnis. Jair Bolsonaro juga menyebut virus itu sebagai penyebab 'flu ringan' dan mengatakan dia tidak takut terinfeksi

"Hanya flu ringan. Tidak akan mematikan saya."
"Semua orang pasti mati." 

Itu hanya dua dari pernyataan kontroversial dan meremehkan yang keluar dari lisan Presiden Brazil, Jair Bolsonaro. Masih ada beberapa pernyataan lain yang diucapkan Jair Bolsonaro sejak Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 menginfeksi hampir seluruh belahan dunia.

Jair Bolsonaro hampir selalu meremehkan ancaman yang ditimbulkan oleh COVID-19, meskipun penyebaran penyakit yang cepat di negaranya telah menewaskan lebih dari 69.000 orang dan menginfeksi lebih dari 1,7 juta jiwa hingga hari ini, Jumat (10/07/2020).

Jair Bolsonaro juga secara terbuka membuat komentar yang bertentangan dengan pedoman yang dikeluarkan oleh otoritas kesehatan, dan telah berulang kali mencemooh rekomendasi kesehatan seperti jarak sosial atau social distancing. Sampai pada akhirnya, Selasa (09/07/2020) lalu, Jair Bolsonaro mengumumkan dalam konferensi pers bahwa dirinya positif terinfeksi COVID-19.

Berikut adalah beberapa pernyataan paling kontroversial dari Jair Bolsonaro terkait pandemi COVID-19 yang dirangkum dari berbagai sumber:

Berlebihan

Presiden Brazil, Jair Bolsonaro yang Terus Menerus Batuk di Depan Pendukungnya Sebelum Dinyatakan Positif Terpapar COVID-19 - Foto: AFP

Dalam salah satu komentar publik pertamanya tentang virus yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, China tersebut, pada 09 Maret 2020, selama kunjungannya ke Amerika Serikat (AS), Jair Bolsonaro mengatakan bahwa media terlalu melebih-lebihkan tingkat keparahan COVID-19.

"Ada juga masalah virus corona, yang, menurut saya, terlalu dibesar-besarkan, kekuatan destruktif dari virus ini," kata Presiden Jair Bolsonaro di sebuah acara di Miami.

Beberapa hari kemudian, lebih dari 20 pejabat tinggi pemerintah federal dinyatakan positif terjangkit COVID-19, termasuk orang-orang yang ikut dalam rombongan Presiden Jair Bolsonaro selama perjalanan ke AS.

Flu Ringan

Dua minggu kemudian, ketika beberapa negara di dunia sudah menerapkan karantina wilayah, Presiden Jair Bolsonaro mengkritik penutupan sekolah dan bisnis. Jair Bolsonaro juga menyebut virus itu sebagai penyebab 'flu ringan' dan mengatakan dia tidak takut terinfeksi.

"Setelah ditusuk, bukan flu kecil yang akan menjatuhkan saya," kata presiden, merujuk pada insiden penusukan yang dia alami menjelang pemilihan presiden 2018 silam.

Jair Bolsonaro juga mengatakan 'orang dengan riwayat atletis seperti dirinya tidak akan merasakan apa-apa jika tertular virus. "Paling buruk, mereka akan merasakan flu ringan," katanya jumawa.

Pemimpin sayap kanan itu sempat berada di bawah tekanan untuk mengungkapkan apakah dia menderita penyakit itu, setelah lebih dari 20 anggota rombongannya dalam kunjungan resmi ke AS didiagnosis positif terpapar COVID-19.

Pada tanggal 19 April, Bolsonaro bergabung dengan demonstrasi lain yang menuntut diakhirinya karantina wilayah di luar markas tentara di ibukota, Brasilia. Dan selama berpidato, Jair Bolsonaro terus menerus batuk.

'Orang lain akan terpukul lebih keras dibanding kita'

Jair Bolsonaro mengklaim bahwa Brazil akan terhindar dari pandemi terburuk, karena tidak memiliki populasi usia lanjut yang besar dibandingkan dengan negara lain. "Orang lain akan 'terpukul lebih keras' dari kita. Populasi Eropa lebih tua dari kita," katanya.

Pada 8 Juli, hanya AS yang memiliki lebih banyak jumlah infeksi dan kematian akibat COVID-19 dibandingkan Brazil.

Masuk Rumah Sakit dan Rekam

Presiden Brazil, Jair Bolsonaro yang tak Pernah Peduli dengan Protokol Kesehatan dan dengan Bebas Berfoto Bersama Pendukungnya - Foto: Reuters

Pada 12 Juni, Bolsonaro secara kontroversial meminta para pendukungnya untuk memasuki rumah sakit dengan kamera untuk memantau jumlah pasien di unit perawatan intensif.

Presiden Jair Bolsonaro secara terbuka mempertanyakan laporan bahwa sistem kesehatan masyarakat Brazil kerepotan karena tingginya jumlah kasus COVID-19. "Temukan cara untuk masuk ke rumah sakit dan rekam videonya," katanya dalam siaran langsung.

"Kita perlu menunjukkan apakah ranjang rumah sakit itu digunakan atau tidak."

Otoritas medis mengkritik permintaan Presiden Jair Bolsonaro dengan alasan bahwa itu dapat membahayakan nyawa.

Kita Semua Akan Mati Suatu Hari

Masih di bulan Maret, Jair Bolsonaro berpendapat bahwa hanya orang dengan kesehatan rapuh yang harus diisolasi. Presiden Jair Bolsonaro tampil di hadapan publik berkali-kali tanpa memperhatikan jarak sosial yang aman.

"Ini adalah kenyataan, virus ada di sana. Kita harus menghadapinya, tetapi menghadapinya seperti seorang lelaki. Tidak seperti anak kecil. Ini hidup. Kita semua akan mati suatu hari nanti," katanya dengan nada menantang.

Pada bulan April, jumlah kematian akibat COVID-19 di Brazil sudah melampaui China. Ia berjabat tangan, bahkan berfoto dengan para pendukungnya pada rapat umum di Brasilia (03/05/2020).

Ketika ditanya oleh seorang jurnalis tentang jumlah korban tewas yang telah melebihi 5.000 (28/04/2020), Presiden Jair Bolsonaro mengatakan:

"Lalu kenapa? Saya minta maaf, (tapi) apa yang kamu ingin saya lakukan? Saya memang Mesias, tapi saya tidak bisa mendatangkan mukjizat." Ia merujuk pada nama tengahnya yakni Messias (Messiah dalam bahasa Portugis).

Kemudian presiden bertanya apakah ada yang merekam wawancara - dan menyatakan kesedihan atas kematian tersebut. "Saya menyesali situasi yang kita alami akibat virus itu. Kami bersimpati dengan keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai, yang sebagian besar adalah orangtua."

Komentar "So what?" itu membuat beberapa pendukungnya marah.

"Saya melakukan kejahatan - saya mengadakan acara barbekyu"

Brazil mencatat lebih dari 9.000 kematian dan 135.000 kasus COVID-19 ketika Presiden Jair Bolsonaro mengumumkan pada tanggal 7 Mei bahwa ia akan menyelenggarakan acara barbekyu untuk 30 orang di rumahnya di Brasilia.

"Saya melakukan kejahatan - saya mengadakan acara barbekyu," katanya kepada wartawan.

Dua hari kemudian, Jair Bolsonaro mengatakan bahwa barbekyu adalah sebuah lelucon.

Hidup Terus Berjalan

Pada hari ia mengumumkan bahwa dirinya positif terpapar COVID-19, Jair Bolsonaro mengatakan kepada pers bahwa ia merasa "lelah, tidak nyaman, dan sedikit sakit otot".

Tetapi Jair Bolsonaro juga terlihat optimistis dan menyatakan bahwa tantangan terbesarnya adalah 'hanya berdiam diri'.

"Tapi kamu tidak perlu panik," katanya. "Hidup terus berjalan."

Pendukung dan Penyerangan Wartawan

Sebelumnya, di media sosial, kelompok-kelompok yang mendukung Jair Bolsonaro sempat membagikan gambar palsu peti mati, yang mereka katakan dikubur tanpa jenazah, untuk membuat angka kematian COVID-19 di negara itu terlihat lebih tinggi.

Paling tidak tiga jurnalis diserang selama demonstrasi (03/05/2020), di mana ratusan demonstran menyerukan agar Kongres dan Mahkamah Agung ditutup, terkait dengan penerapan sejumlah kebijakan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19.

Kantor berita Reuters menyaksikan seorang fotografer dari surat kabar O Estado de S. Paulo ditarik dari tangga dan berulang kali ditendang tulang rusuknya.

Kecewa dengan Ucapan Jair Bolsonaro 

Guilherme Rolim adalah seorang dokter gigi berusia 36 tahun yang mengatakan ia memilih Jair Bolsonaro dalam pemilihan umum 2018 karena menginginkan perubahan. Rolim mengatakan kepada BBC Brazil bahwa dia menganggap pilihannya sebuah "kejahatan yang perlu" tetapi, setelah kehilangan ayahnya karena COVID-19, dia kecewa dengan penanganan COVID-19 oleh pemerintah.

"Bolsonaro adalah orang yang ceroboh. Pernyataan ini (ketika Bolsonaro mengatakan 'lalu kenapa?') membuktikan dia tidak bertanggungjawab dan membahayakan. Presiden bermain-main dengan sesuatu yang sangat serius," katanya.

"Sebagai seorang anak yang kehilangan ayahnya karena virus, saya takut pada hal-hal yang dikatakan presiden. Mungkin dia mengatakan itu karena dia tidak pernah kehilangan orang yang dicintainya, dia belum merasakan sakit luar biasa yang ditimbulkan dari kehilangan ini."

Di negara-negara bagian seperti Sao Paulo dan Rio de Janeiro, langkah-langkah karantina diperluas, dan gubernur setempat mengkritik Jair Bolsonaro. 

COVID-19 juga masuk ke ranah politik ketika Jair Bolsonaro memecat menteri kesehatannya yang populer, Luiz Henrique Mandetta, bulan lalu, karena perbedaan pendapat terkait cara menghadapi wabah COVID-19.

Dia menggantikan Mandetta dengan Nelson Teich, seorang ahli onkologi yang merupakan CEO beberapa klinik swasta dan sekarang menjadi mitra konsultan layanan kesehatan.

Sikap presiden terhadap COVID-19 sejalan dengan sekelompok warga di Brazil, khususnya di kalangan pebisnis yang khawatir dengan konsekuensi ekonomi dari karantina wilayah.

Brazil tidak Dapat Berhenti

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Datafolha pada tanggal 29 April mengatakan 52% orang Brazil percaya mereka harus harus tinggal di rumah selama pandemi COVID-19 berlangsung. Angka ini turun dari 60% di awal bulan April.

Di kalangan masyarakat terkaya di negara itu, dukungan untuk peraturan karantina wilayah mencapai 39%. Junior Durski, miliarder pemilik restoran Madero, memicu kemarahan publik setelah mengatakan, "Sekarang 5.000 orang akan mati karena COVID-19 dan kami tidak dapat menghindarinya. Kami tidak dapat menutup semuanya, bersembunyi dari musuh, dan tidak bekerja. "

Dia kemudian mengatakan bahwa kutipannya diambil di luar konteks.

Banyak pengusaha lain mengambil sikap yang sama, termasuk miliarder Luciano Hang, pemilik pusat perbelanjaan Havan yang disebut Bloomberg sebagai "penginjil pasar bebas".

Hang mengkritik 'histeria' COVID-19 dan mengatakan dia tidak khawatir dengan keadaannya sendiri, tetapi tentang ekonomi Brazil. Dia mengatakan secara pribadi dia mampu memecat 22.000 karyawannya dan 'pergi ke pantai'.

Isolasi Global

Presiden Brazil, Jair Bolsonaro Akhirnya Mengumumkan Bahwa Dirinya Positif Terpapar COVID-19 - Foto: AFP

Namun, ketika dunia semakin khawatir dengan konsekuensi COVID-19, sikap Jair Bolsonaro tampaknya membuatnya semakin terasingkan.

Tom Phillips, seorang koresponden untuk The Guardian di Rio, menulis dalam akun Twitternya: "Mencoba (dan gagal) membayangkan ada pemimpin dunia lain yang ketika ditanyai tentang ribuan kematian di negaranya akan menjawab: 'Lalu kenapa?'"

Bahkan Donald Trump - Jair Bolsonaro senang dibandingkan dengan Trump - telah menerapkan langkah-langkah pembatasan pergerakan sosial, meskipun itu berdampak pada ekonomi mereka.

Saat konferensi pers di Gedung Putih, Kamis (28/04/2020), Trump mengomentari kesulitan yang dihadapi Brazil.

"Saya benci mengatakannya, tetapi (angka kasus di) Brasil sangat tinggi, grafiknya sangat, sangat tinggi. Di sana, (grafiknya) hampir vertikal. Presiden Brasil benar-benar teman baik saya, pria hebat, tetapi mereka hidup dalam masa yang sangat sulit," kata Donald Trump. 

Gubernur negara bagian Florida, Ron de Santis, mengatakan ia mengamati situasi di Brazil dengan sangat cermat. Itu memicu kekhawatiran bahwa tindakan pembatasan khusus untuk warga Brazil akan diterapkan.

Para ahli mengatakan angka resmi COVID-19 Brazil bisa jadi terlalu diremehkan. Menurut Imperial College London, tingkat transmisi di Brazil adalah 2,8 dan merupakan yang tertinggi di antara 48 negara yang diperbandingkan.

Negara-negara yang melonggarkan lockdown mengatakan angka transmisi harus di bawah 1 - yang berarti bahwa setiap orang yang tertular COVID-19 menularkannya ke rata-rata kurang dari satu orang. Hal itu akan menyebabkan lebih sedikit orang yang terinfeksi, sampai penularan berhenti sepenuhnya.

Masalah Politik

Krisis pandemi COVID-19 di Brazil menambah tantangan politik bagi Jair Bolsonaro. Pada bulan April, Mahkamah Agung membatalkan penunjukan teman Jair Bolsonaro, Alexandre Ramagem untuk mengawasi Polisi Federal - yang saat ini sedang menyelidiki putranya, Carlos, atas tuduhan terlibat dalam skema untuk menyebarkan berita palsu.

Kontroversi tersebut berujung pada pengunduran diri 'menteri super' Jair Bolsonaro, Sergio Moro yang menuduh presiden berusaha ikut campur secara politis dalam pekerjaannya.

Tetapi Jair Bolsonaro telah membantah kritik itu. "Lalu kenapa?" dia menulis di akun Facebook-nya.

"Sebelum bertemu putra-putraku, aku sudah bertemu Ramagem. Haruskah penunjukannya dibatalkan karena ini? Teman siapa yang harus kupilih?"