Sejak awal Januari 2018, Bursa Derivatif Malaysia mencatat kejatuhan harga minyak sawit nyaris mencapai 20 persen.

Jatuhnya harga sawit di pasaran membuat Presiden Joko Widodo angkat bicara. Menurutnya, tak mudah menyelesaikan penurunan harga sawit karena menyangkut produksi dalam jumlah besar.

"Pembeli besar kita itu Uni Eropa, yang kedua India yang gede-gede, yang ketiga China Tiongkok pembeli terbesar kita. Yang lainnya belinya yang kecil-kecil aja. Inilah problem yang ingin saya sampaikan apa adanya," kata Jokowi di Palembang, Minggu, 25 November 2018.

Presiden mengatakan, sejumlah upaya telah dilakukan pemerintah untuk mendongkrak harga sawit seperti mengirim tim ke Uni Eropa dan sejumlah negara lain terkait isu yang membelit sawit Indonesia. 

"Tapi sebetulnya ini urusan bisnis, urusan jualan mereka, juga jualan yang namanya minyak bunga matahari. Kita jualan minyak kelapa sawit, sehingga masuk ke sana sekarang mulai dihambat-hambat," kata Jokowi.

Produksi sawit Indonesia saat ini merupakan yang terbesar di dunia, bersaing dengan Malaysia dan Thailand.

Awal tahun lalu, kata Jokowi, dirinya juga sudah bertemu Perdana Menteri China untuk meminta agar negar aitu  membeli minyak sawit Indonesia lebih banyak dari sekarang.

"Saya to the point saja saya ngomong ya minta agar produksi disini bisa diserap sehingga harganya bisa naik. Ada tambahan 500.000 ton, banyak sekali," ujarnya.

Hanya saja, kata Jokowi, penambahan itu tak besar pengaruhnya untuk mendongkrak harga.

Produksi sawit Indonesia saat ini merupakan yang terbesar di dunia, bersaing dengan Malaysia dan Thailand. Saat ini, Indonesia memiliki 13 juta hectare sawit yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua dan sedikit di Jawa. Dengan areal seluas itu, setiap tahunnya menghasilkan produksi 42 juta ton.

"Bayangkan 42 juta ton. itu kalau dinaikkan truk berarti kurang lebih 10 juta truk angkut itu, ya untuk bayangan betapa gede sekali jumlah ini. Kita sekarang ini bersaing dengan Malaysia bersaing dengan Thailand, tapi kita tetap yang terbesar," ungkap Presiden.

Saat ini, kata presiden, pemerintah telah menerapkan kebijakan B20. Program ini sudah diterapkan sejak 3 tahun lalu. Jika program ini berhasil, kata presiden, impor BBM bisa dikurangi sehingga harga sawit bisa menanjak.  Hanya saja, untuk waktu sekitar satu tahun untuk melihat dampaknya.

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) mengatakan, indutri sawit Indonesia sedang dihantui pemutusan hubungan kerja (PHK). Penyebabnya adalah jatuhnya harga minyak sawit di pasar internasional sepanjang tahun ini.

Sempat menembus level MYR 2.600/ton pada awal Januari 2018, harga CPO kini berkisar level MYR 2.000/ton. 

“Stok CPO penuh di tangka-tangki CPO karrena tidak ada pembeli dan ditolak di pasar global,” kata Ketua bidang Ketenagakerjaan Gapki, Sumarjono Saragih baru-baru ini seperti dilansir CNBC Indonesia. 

Ada sejumlah faktor eksternal yang menyebabkan harga sawit anjlok di pasar dunia. Diantaranya, adanya kampanye hitam terhadap biofuel berbasis sawit di Uni Eropa, perang dagang AS-China yang menekan harga minyak kedelai, termasuk kenaikan bea masuk di India. 

Sejak awal Januari 2018, Bursa Derivatif Malaysia mencatat kejatuhan harga minyak sawit nyaris mencapai 20 persen. Sempat menembus level MYR 2.600/ton pada awal Januari 2018, harga CPO kini berkisar level MYR 2.000/ton. 

Menurut Sumarjono, jatuhnya harga CPO ini memukul tenaga kerja di sektor hulu, terutama petani di perkebunan sawit yang tidak bermitra dengan perusahaan manapun. Sebagai contoh, Sumarjono menyodorkan data di Indragiri Hulu, Riau. Dalam sebulan terakhir, harga beli tandan buah segar (TBS) sudah jatuh ke level Rp800  – Rp600 per kg.

"Padahal, biaya untuk menghasilkan 1 kg TBS kurang lebih Rp 800-1.000. Jadi supaya petani dapat income, harusnya di atas itu," ujarnya.

Kementerian Pertanian mencatat, jumlah tenaga kerja dan petani yang bekerja di perkebunan kelapa sawit Indonesia diperkirakan mecapai 5,99 juta pada 2017, bertambah 200 ribu orang dari tahun 2016. []