masyarakat yang merasa cemas tertular COVID-19 setelah diterapkan normal baru (new normal) lebih banyak daripada yang sedikit cemas atau tidak cemas tertular COVID-19 sama sekali.

Peneliti Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengatakan masyarakat yang merasa cemas tertular COVID-19 setelah diterapkan normal baru (new normal) lebih banyak daripada yang sedikit cemas atau tidak cemas tertular COVID-19 sama sekali.

"Tingkat kecemasan tertular, itu juga masih tertinggi. Kekhawatiran untuk tertular di masa new normal itu masih tinggi," kata Ali, yang juga CEO Alvara Research Center itu, dalam diskusi daring di Jakarta.

Ia mengatakan bahwa publik yang merasa cemas anggota keluarganya tertular COVID-19 di masa normal baru berdasarkan survei Alvara Research Center sebesar 60,5 persen.

Sementara yang sedikit cemas dan tidak cemas sama sekali hanya 37,7 persen. Sisanya tidak menjawab atau menjawab tidak tahu.

Namun, hasil survei yang dilakukan terhadap 1.225 koresponden di seluruh Indonesia pada 22 Juni 2020 hingga 1 Juli 2020 lalu itu juga menunjukkan bahwa ada dilema pada sebagian masyarakat.

Yakni keharusan memilih mengutamakan kesehatan dengan tidak keluar rumah atau memilih mengutamakan ekonomi dengan tetap beraktivitas seperti normal di luar rumah.

"Dilema itu terutama dirasakan pada masyarakat menengah ke bawah, alasan utamanya adalah karena takut kehilangan pekerjaan," kata Ali.

Survei Alvara Research Center dengan tema 'Respons Publik atas COVID-19' yang berlangsung pada Minggu kemarin juga menunjukkan bahwa persentase publik yang khawatir kehilangan pekerjaan yakni sebesar 41,5 persen.

Sementara alasan selanjutnya adalah khawatir tidak bisa membayar cicilan (27,3 persen), dan kehabisan bahan makanan (20,5 persen).

Survei dilakukan menggunakan metode daring (online survey) dan wawancara telepon (mobile assisted phone interview) dengan margin kesalahan (margin of error) 2,86 persen.