Pasca mangkatnya, pendiri Grup Sinar Mas Eka Tjipta Widjaja pada 27 Januari 2019, menyisakan masalah besar. Adu otot antar keluarga berebut warisan.

Sejatinya, ketika masih hidup, Eka Tjipta telah menyiapkan segala sesuatunya agar anak cucunya tidak berebut harta warisan. Termasuk membagi-bagi aset yang bernilai triliunan rupiah. Menurut perhitungan Forbes yang dirilis Desember 2019, kekayaan Sang Naga sedikitnya bernilai US$9,6 miliar, atau setara Rp134 triliun.

Bisa jadi, Eka Tjipta yang bernama asli Oei Ek Tjhong, khawatir bakal terjadi 'perang saudara' yang berdampak kepada bisnis Grup Sinar Mas yang dibangun sejak 1938.

Oh iya, perebutan warisan Sang Naga ini, mencuat satu setengah tahun wafatnya Eka Tjipta. Tepatnya Juni 2020, Freddy Widjaja yang merupakan salah satu anak Eka Tjipta Widjaja dari istri Lidia Herawati Rusli. Pasangan ini dikaruniahi tiga anak yakni Freddy Widjaja, Robbin Widjaja dan Sindy Widjaya. Pernikahan dengan Lidia Herawati,  hanya tercatat secara adat/Agama Budha pada 3 Oktober 1967. Tidak tercatat di Catatan Sipil.

Selanjutnya, Freddy mengajukan gugatan ke engadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Dirinya menuntut hak warisan atau wasiat mendiang Eka Tjipta Widjaja pada 16 Juni 2020 dengan nomor perkara 301/Pdt.G/2020/PN.Jkt.Pst.

Dalam laporannya, Freddy mengajukan lima anak Eka Tjipta Widjaja lainnya sebagai tergugat. Kelima anak Eka Tjipta itu adalah Indra Widjaja alias Oei Pheng Lian, Teguh Ganda Widjaja alias Oei Tjie Goan, Muktar Widjaja alias Oei Siong Lian, Djafar Widjaja alias Oei Piak Lian, dan Franky Oesman Widjaja alias Oeo Jong Nian.

Dalam gugatannya, Freddy Widjaja meminta majelis hakim menyatakan penggugat dan tergugat sebagai ahli waris yang sah dari almarhum Eka Tjipta Widjaja. Selain itu, Freddy meminta pengadilan menghukum kelima anak Eka Tjipta sebagai tergugat, membagi harta waris menurut hukum perdata. Masing-masing setengah bagian.

Ada 12 perusahaan yang disengketakan, yakni PT Sinar Mas Agro Resources and Technology TbK (SMAR), PT Sinar Mas Multi Artha Tbk (SMMA), Sinar Mas Land, PT Bank Sinar Mas Tbk (BSIM), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).

Adalagi, PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry, PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk (MCOR), Asia Food and Properties Limited, China Renewable Energy Investment Limited, PT. Golden Energy Mines Tbk (GEMS) dan Paper Excellence BV Netherlands.

Sebelumnya, pada Januari 2020, Freddy mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, terdaftar terdaftar dengan nomor 36/Pdt.P/2020/PN.Jkt.Pst. Freddy meminta pengadilan menetapkannya sebagai anak dari perkawinan pasangan Lidia Herawati Rusli dengan Eka Tjipta Widjaja.

Informasi saja, sebelum meninggal, Eka Tjipta telah membuat surat wasiat khusus untuk Freddy Widjaja. Berdasarkan Akta Wasiat Nomor 60 tertanggal 25 April 2008 itu,  Eka Tjipta Widjaja memberikan sejumlah hartanya berupa uang kepada Freddy Widjaja sebagai bekal hidup di masa depan.

Mungkin karena belum puas, Freddy memberanikan diri mengajukan gugatan perdata. Langkah ini, jelas berdampak buruk terhadap bisnis Grup Sinas Mas. Termasuk harga sahamnya terjun bebas.

Saat ini, setidaknya ada sembilan emiten Grup Sinar Mas tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk dua perusahaan di bawah Sinarmas Land yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI).

Gara-gara rebutan warisan ini, pada Selasa (14/7/2020), saham SMAR minus 0,30% di posisi Rp 3.300/saham. Padahal sempat menguat di sesi I. Berikutnya saham SMMA anjlok 0,86% menjadi Rp17.350/saham.

Selanjutnya saham BSIM turun 1,92%% di posisi Rp 510/saham. Adapun saham BSDE stagnan di level Rp 750/saham dan saham DUTI mampu naik sendirian 2,35% di level 4.790/saham. Di sisi lain, ada dua saham perusahaan kertas Sinarmas yakni INKP dan TKIM ikut terkoreksi. Saham TKIM ambles 5,96%, dan INKP turun 5,50% di level Rp7.300/saham

Dari perbankan, saham MCOR turun 1,32% di posisi harga Rp 149/saham, sementara saham GEMS masih disuspensi BEI karena masih belum memenuhi ketentuan minimal saham publik, bahkan terancam didepak (delisting) dari bursa.

Khusus untuk MCOR, Sinar Mas Multiartha memang akan menjadi salah satu pemegang saham Bank China Construction Bank Indonesia (MCOR) atau CCB Indonesia, setelah menjadi pembeli siaga (standby buyer) dari penerbitan saham baru melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue CCB Indonesia. Kini, nasib kerjaan bisnis Sinar Mas bergantung penerus Eka Tjipta. Kalau beradu otot terus, jangan harap perusahaan membesar. Bisa-bisa semuanya bakal gigit jari.

.