Tak hanya bagi karyawan, perusahaan juga akan memberikan bonus kepada mitra toko, klub, dan rantai pasokan Walmart sebesar US$ 180 juta atau Rp 2,88 triliun yang akan dijadwalkan pada periode berikutnya

Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed belum lama ini merilis, banyak perusahaan ritel menghentikan usahanya karena meluasnya wabah Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. Salah satu penyebab perusahaan harus berhenti adalah karena rantai suplai terputus dari China.

Disebutkan, ada sekitar delapan retail besar yang terdampak pandemi COVID-19 dan tentu saja mencatatkan angka pendapatan yang menurun drastis. Diketahui, semua pengecer ini menghentikan pengiriman dari China sebagai bentuk upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Namun demikian, Walmart justru menyiapkan dana jumbo bagi karyawannya selama pandemi COVID-19. Walmart menyatakan perusahaan menyiapkan US$ 365 juta atau setara dengan Rp 5,84 triliun (asumsi kurs Rp 16.000/US$) yang akan dibayarkan sebagai bonus uang tunai kepada karyawan yang bekerja per jam selama pandemi COVID-19 ketika para pelanggan berduyun-duyun ke toko ritel tersebut untuk membeli barang-barang.

Bonus tersebut secara rinci akan diberikan sebesar US$ 300 atau Rp 4,8 juta untuk pekerja penuh waktu dan US$ 150 atau Rp 2,4 juta bagi karyawan paruh waktu. Tak hanya bagi karyawan, perusahaan juga akan memberikan bonus kepada mitra toko, klub, dan rantai pasokan Walmart sebesar US$ 180 juta atau Rp 2,88 triliun yang akan dijadwalkan pada periode berikutnya.

Walmart adalah peritel bahan makanan terbesar di AS dan telah mengalami peningkatan penjualan karena masyarakat di Negeri Paman Sam membeli makanan, kertas toilet, pembersih tangan, dan barang-barang lainnya saat mereka bersiap untuk tinggal di rumah di tengah meningkatnya kasus COVID-19.

Ketika perusahaan lain megap-megap seperti ikan yang kehabisan air dalam menghadapi genasnya wabah COVID-19 yang berhasil memporak-porandakan hampir semua sektor bisnis, lalu mengapa Walmart justru bermurah hati terhadap karyawannya. Hal itu tentu tak akan terjadi, bila sang pemilik usaha bukan sosok yang murah hati seperti Jim Walton.

Jim Walton tercatat sebagai orang terkaya ke-8 dunia. Dia adalah anak bungsu dari pendiri Wal-Mart Sam Walton. Wal-Mart adalah perusahaan Amerika Serikat (AS) yang mengoperasikan jaringan supermarket terbesar di AS. Bahkan, menurut Fortune Global 500 2008, Wal-Mart adalah perusahaan publik terbesar di dunia berdasarkan pendapatan.

Keluarga Wal-Mart pun dikenal sebagai keluarga kaya raya di AS berkat jariangan supermarket terbesar di dunia, khususnya di Amerika Serikat. Sam Walton, mendirikan Walmart pertama kali di Arkansas pada 1962.

Sejak saat itu dia terus mengembangkan bisnisnya dan membuka beberapa jaringan supermarket Walmart. Sam meninggal pada tahun 1992 dan bisnis dijalankan oleh anak-anaknya.

Menurut Forbes, Jim Walton diperkirakan memiliki kekayaan bersih USD58 miliar (Rp850 triliun). Dia adalah Direktur Arvest Bank, yang total asetnya mencapai USD 16 miliar. Dia juga pernah menjabat dewan komisaris Walmart sebelum digantikan anaknya, Alice Walton pada 2016.

Ia menikah dengan Lynne McNabb Walton dan mempunyai empat anak, termasuk Alice Anne Walton dan Thomas Layton Waltoh. Walton dan keluarganya tinggal di Bentonville, Arkansas.

Sebagaimana dilansir dari The Famous People di Jakarta, Kamis (16/7/2020) Jim Walton adalah pewaris rantai ritel terbesar di dunia, Walmart. Ia lahir dengan nama James Carr Walton, pada 7 Juni 1948 di Newport, Arkansas. Ia dibesarkan di Bentonville City sebagai anak ketiga Sam Walton, yang lebih dikenal sebagai co-founder 'Walmart.

Jim Walton memperoleh gelar sarjana di bidang Administrasi Bisnis dari University of Arkansas dan setelah lulus bergabung dengan Walmart dan mengurus urusan real-estate untuk perusahaan sampai tahun 1975.

Setelah itu, Jim Walton memulai masa jabatan baru sebagai presiden Walton Enterprises. Pada bulan September 2005, setelah kematian kakaknya, John, Jim pun menjadi anggota Dewan Direksi Walmart.

Selain akademisi, Jim juga jago dalam olahraga dan atletik. Dia adalah pemain sepak bola yang sangat bagus dan bermain di semua tingkat negara dengan tim sekolah menengahnya di Bentonville High School.

Meskipun sangat pandai bermain sepak bola, dia sejak awal ingin bergabung dengan bisnis keluarga. Untuk mempersiapkan itu, ia berkuliah di Universitas Arkansas dan memperoleh gelar sarjana di bidang Administrasi Bisnis.

Sementara saudara-saudaranya yang lain belajar di beberapa negara bagian lain, Jim memutuskan untuk tetap tinggal di Arkansas. Selama masa kuliahnya, ia juga anggota dari persaudaraan Lambda Chi Alpha.

Setelah lulus kuliah pada tahun 1971, Jim beristirahat selama setahun dan memutuskan untuk menjelajahi dunia. Dia bepergian dan belajar menerbangkan pesawat. Setelah itu dia kembali ke Arkansans dan bergabung dengan bisnis keluarga. Sebagai pribadi, Jim adalah individu yang pemalu dan tidak suka berada di pusat perhatian.

Sebagai CEO Arvest Bank, di bawah kepemimpinan Jim, bank Arvest telah tumbuh secara eksponensial. Mereka telah mengakuisisi banyak bank kecil, seperti WestStar Bank, Caney Valley National Bank, dan Bank of Pea Ridge.

Kemudian pada Maret 2013, Arvest mengakuisisi 29 cabang 'Bank of America' di Kansas, Arkansas, Missouri, dan Oklahoma .

Jim juga kontributor tetap Walton Family Foundation. Pada 2016, sebuah laporan menyatakan bahwa Jim memiliki 152 juta saham di Walmart, senilai USD 11 miliar saat itu.