Rupiah ditutup menguat 91 poin atau 0,62 persen menjadi Rp14.650 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.741 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (22/7) sore, ditutup menguat dipicu stimulus ekonomi Uni Eropa. Termasuk kabar gembira kemajuan penemuan vaksin COVID-19.

Rupiah ditutup menguat 91 poin atau 0,62 persen menjadi Rp14.650 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.741 per dolar AS.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp14.605 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.605 per dolar AS hingga Rp14.670 per dolar AS.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu menunjukkan rupiah menguat menjadi Rp14.655 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.813 per dolar AS.

"Tercapainya kesepakatan paket stimulus di Eropa mendapat respons positif, yang sebelumnya telah mendapat pertentangan dari negara-negara anggota Uni Eropa," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Rabu (22/7).

Para pemimpin negara Uni Eropa akhirnya mencapai kesepakatan terkait stimulus penanganan COVID-19 setelah melakukan negosiasi panjang di Brussels. Dari nominal 750 miliar euro yang akan dikucurkan, sebanyak 390 miliar euro di antaranya bakal berwujud dana hibah. Sedangkan 360 miliar euro sisanya disalurkan dalam bentuk pinjaman jangka panjang.

Paket stimulus tersebut ditujukan untuk menarik ekonomi Uni Eropa keluar dari resesi terburuk serta memperketat obligasi keuangan yang menyatukan 27 negara.

Selain dana pemulihan, Uni Eropa mengatakan anggaran berikutnya, yang akan mendanai inisiatif antara 2021 hingga 2027, akan berjumlah total 1,074 triliun euro. Keduanya digabungkan membawa investasi mendatang ke level 1,824 triliun euro.

Sementara itu, katanya, sentimen positif juga datang dari beberapa uji coba awal terhadap tiga kandidat vaksin COVID-19. "Sehingga optimisme pelaku pasar meningkat, pandemi virus corona bisa ditangani," ujar Ibrahim dikutip Antara.

Uji vaksin diantaranya, vaksin yang diproduksi oleh AstraZaneca bekerja sama dengan Oxford University. Hasil uji coba menunjukkan bahwa imun tubuh responden bekerja dengan baik tanpa efek samping yang signifikan.

Kedua adalah vaksin buatan CanSiono Biologics dan divisi riset militer China. Dari 508 orang relawan yang diuji coba, sebagian besar membuahkan hasil positif. Imun tubuh meningkat dan tidak ada efek samping yang berlebihan.

Ketiga adalah kolaborasi BioNTech dan Pfizer yang melakukan uji coba terhadap vaksin yang menggunakan Ribonucleic Acid (RNA). Vaksin mendorong sel untuk membuat protein yang menyerupai bentuk luar virus corona.

Begitu pula dengan Indonesia, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Kampus tersebut tengah mencari sekitar 1.620 orang untuk diuji klinis vaksin hasil kerja sama dengan perusahaan asal China, Sinovac.