Sepanjang Juli-September 2020 atawa kuartal III, pemerintah menyiratkan situasi krisis telah masuk ke Indonesia. Tapi tenang, ekonomi nasional tidak jeblok-jeblok amat.

Tak sedang bercanda, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberi sinyal bahwa resesi ekonomi sudah terasa di Indonesia pada kuartal III 2020. Alasan Ketua Umum Partai Golkar ini, pertumbuhan ekonomi diperkirakan minus 3,4% pada kuartal II, dan minus 1% pada kuartal berikutnya. Di mana, pengertian resesi adalah pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif dalam dua kuartal, atau lebih secara berturut-turut.

Pada kuartal I-2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif 2,97$, namun diperkirakan negatif pada dua kuartal selanjutnya. "Di kuartal kedua (diperkirakan) minus 3,4 persen, kuartal ketiga minimal kita bisa naik (dengan proyeksi minus 1 persen)," ujar Airlangga dalam forum diskusi virtual Yayasan Pembangunan Indonesia, Senin malam (27/7/2020).

Meski sinyal resesi ekonomi pada kuartal III 2020 sulit ditutupi, Airlangga mengaku masih optimis, bahwa pertumbuhan bisa meningkat pada kuartal IV-2020. Proyeksinya, perekonomian bertumbuh ke arah positif yakni di kisaran 1,4%. Sehingga, secara keseluruhan ekonomi nasional berada di angka nol persen sepanjang tahun ini. "Kami berharap di 2020 kita masih berada dalam jalur positif," terang Airlangga.

Sementara pada 2021, ekonomi diperkirakan tumbuh di kisaran 5%. Rinciannya, tumbuh 3,2% pada kuartal I; 6,8% pada kuartal II; 5,1% pada kuartal III; dan 5,1% pada kuartal IV 2021.

Di sisi lan, meski ancaman resesi ada di depan mata, namun kondisi Indonesia masih lebih baik dari negara-negara lain. Misalnya, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia setidaknya lebih baik dari Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura.

Malaysia, sambung Airlangga, laju perekonomiannya diperkirakan turun ke minus 8,4% pada kuartal II-2020 dan minus 4,3% pada kuartal III 2020. Sementara, pada kuartal IV 2020, Negeri Jiran diperkirakan minus 1%, sehingga resesi masih berlanjut dengan akumulasi pertumbuhan minus 3,3% pada keseluruhan 2020.

Begitu pula dengan Thailand, ekonomi Negeri Gajah bahkan sudah minus 1,8% sejak kuartal I- 2020. Pada kuartal II diperkirakan berada di kisaran minus 11,1%; lalu minus 6,3% pada kuartal III; dan minus 4% pada kuartal IV 2020.
Artinya, secara kseluruhan, pertumbuhan ekonomi Thailand diperkirakan minus 5,8% pada 2020.

Kemudian, Filipina sudah minus 0,2% pada kuartal I-2020. Diperkirakan minus 7,6% pada kuartal II; minus 3% pada kuartal III; dan minus 0,4% pada kuartal IV, sehingga total minus 2,8% pada 2020. Sedangkan Singapura yang sudah mengumumkan resesi, tumbuh minus 0,3% pada kuartal I dan minus 12,6% pada kuartal II-2020. "Kemungkinan Singapura tumbuh minus 6% pada kuartal III; dan minus 3,6% pada kuartal IV; sehingga total minus 5,6% sepanjang 2020," paparnya..

Sebelumnya, Asisten Gubernur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI), Juda Agung memperkirakan, perekonomian Indonesia tumbuh negatif pada kuartal II dan III secara berturut-turut. "Forecast-forecast dari berbagai lembaga bahwa kuartal II ini pertumbuhan ekonomi akan negatif, pertumbuhan di kuartal III kami perkirakan dari BI ada kemungkinan masih negatif," ucap Juda.

Sayangnya, Juda enggan mengungkap angka proyeksi dari bank sentral nasional. Namun, ia mengatakan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi negatif dalam dua kuartal berturut-turut atau resesi muncul dari lemahnya realisasi penjualan barang dan jasa dari sejumlah korporasi di Tanah Air.

Tak hanya itu, pelemahan juga tercermin dari pertumbuhan di sektor UMKM dan rumah tangga. "Kami monitor terus kondisi korporasi dan rumah tangga memang kalau kita lihat data-data terakhir menunjukkan sales growth dari korporasi sudah negatif," tandasnya.