Aturan ekspor ke wilayah Eropa Timur tidak terlalu rumit, sehingga Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini

Kementerian Perdagangan menyasar ekspor produk furniture ke Azerbaijan dan Eropa Timur. Langkah ini merupakan upaya untuk menjaga neraca perdagangan di tengah pandemi COVID-19. Pandemi ini tidak menyurutkan upaya pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kementerian Perdagangan terus melakukan langkah-langkah konkret untuk mendorong ekspor produk lokal, khususnya produk furniture ke pasar Azerbaijan dan Eropa Timur. Di tengah pandemi COVID-19, pemerintah terus berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dengan menjaga keseimbangan neraca perdagangan,” ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan menambahkan, Kementerian Perdagangan melakukan beberapa strategi untuk menggenjot ekspor furniture ke pasar global. Hal itu diungkapkan Kasan saat menjadi pembicara pada seminar virtual bertema “Potensi Industri Jepara dalam Rangka Membidik Pasar Azerbaijan dan Eropa Timur” yang diselenggarakan Universitas Tarumanegara hari Jumat (28/7).

“Beberapa strategi untuk menggenjot ekspor produk furnitur ke pasar global, yaitu fokus terhadap produk dan pasar, relaksasi ekspor dan impor untuk tujuan ekspor, peningkatan daya saing produk, penguatan akses pasar, optimalisasi niaga elektronik (e-commerce), penguatan usaha kecil menengah (UKM) berorientasi ekspor melalui program pendampungan ekspor (export coaching program), serta peningkatan ekspor di kawasan ekonomi khusus (KEK) dan pos lintas batas negara,” ungkap Kasan.

Menurut Kasan, Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor furniture ke kawasan Eropa Timur, khususnya untuk produk furnitur kayu dan komponen furniture. Fokus pasar furniture di Eropa Timur diarahkan ke pasar Polandia, Rusia, Slovenia, Romania, dan Kroasia.

Untuk pasar Eropa Timur, fokusnya yaitu mempertahankan produk furniture yang memiliki kekuatan pasar di negara tujuan ekspor, contohnya furniture kayu (pangsa 41,15 persen), kursi rangka kayu (20,35 persen), furniture kayu untuk kamar (8,11 persen), furniture kayu untuk dapur (5,45 persen), dan kursi rotan (3,77 persen),” kata Kasan.

Kasan mengatakan, aturan ekspor ke wilayah Eropa Timur tidak terlalu rumit, sehingga Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini. Selain itu, juga perlu menentukan akses pintu masuk pasar ke wilayah Eropa Timur yang strategis seperti melalui Turki, Rusia, dan Azerbaijan.

Sementara itu, Rektor Universitas Tarumanegara Agustinus Purna Irawan yang turut hadir sebagai narasumber mengatakan, perlu adanya kolaborasi ‘triple helix’, yaitu kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi dalam pengembangan industri furniture tanah air. Selain itu, ketua KADIN Jepara Andang Wahyu Triyanto menyampaikan kondisi terkini industri furniture di Jepara serta hambatan dan tantangan yang dihadapi industri funiture Indonesia.