Dwi Soetjipto resmi menjabat Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), Senin, 3 Desember 2018. Dwi menggantikan posisi Amien Sunaryadi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, resmi melantik Dwi Soetjipto sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), Senin, 3 Desember 2018. Dwi menggantikan posisi Amien Sunaryadi.

Dwi bukanlah orang asing di sektor migas ini. Sebelumnya, pria kelahiran Surabaya, 10 November 1955, itu pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero). Dwi menjabat sebagai orang nomor satu Pertamina sejak November 2014 hingga 2017.

Karir alumnus Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya ini di perusahaan BUMN dimulai dari PT Semen Padang. Pada 1990, Dwi memulai karirnya sebagai Kepala Personalia.

Karir ayah empat anak ini menanjak saat ditunjuk sebagai Dirut PT Semen Padang pada 2003. Dan pada 2005, Dwi pun dipercaya untuk memegang PT Semen Indonesia sebagai Dirut.

Di bawah kepemimpinan Dwi Soetjipto, PT Semen Indonesia disulap menjadi perusahaan induk usaha semen nasional dengan operasi pabrik terbesar di Asia Tenggara.

Sebagai holding, Semen Indonesia membawahi Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa.

PT Semen Indonesia pun sukses membuka pabrik di Vietnam. Bahkan, dia juga sukses membawa kapasitas produksi Semen Indonesia menjadi 26 juta ton per tahun. Jumlah ini mengalahkan kapasitas raja semen Asia Tenggara, Siam Cement, yang hanya memiliki produksi 23 juta ton.

Setelah menjabat sebagai bos PT Semen Indonesia, Dwi dipercaya sebagai Direktur Utama Pertamina. Dia menggantikan posisi Karen Agustiawan yang mengundurkan diri.

Selama sekitar tiga tahun menjadi orang nomor satu di Pertamina, Dwi memiliki sejumlah prestasi yang sangat cemerlang. Seperti pembubaran Petral, pengenalan Pertalite, BBM satu harga, hingga mengalahkan laba Petronas.

Aksi Dwi membubarkan Petral mendapat sanjungan. Keberadaan Petral digantikan Integrated Supply Chain (ISC).

Kebijakan ini pun sukses memotong perantara dari rantai suplai, peningkatan pemanfaatan dan fleksibilitas dari armada laut Pertamina. Keberadaan ISC ini pun memberikan perubahan yang signifikan berupa penghematan.

Selain itu, Dwi juga sukses meluncurkan produk baru BBM, yakni Pertalite. Produk BBM dengan RON 90 ini diluncurkan untuk mengurangi pengunaan premium yang masih disubsidi pemerintah. Kebijakan ini pun sukses memotong konsumsi Premium, dari yang biasanya di kisaran 75 ribu KL per hari langsung menjadi 68 ribu KL per hari.

Dwi juga sukses meningkatkan laba Pertamina hingga mengalahkan perolehan laba dari Petronas. Kebijakan efisiensi yang dicanangkan membuat Pertamina meraih laba di atas Rp 40 triliun pada 2016.

Selamat bekerja Dwi Soetjipto! 

">">">