Tanah Papua harus maju seperti daerah lain di Indonesia karena Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi

75 tahun Indonesia Merdeka, PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) terus berkarya membangun negeri melalui infrastruktur-infrastruktur terbaiknya di Indonesia. Tak hanya menjalankan amanah pemerintah untuk membangun dan mengembangkan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang 2700 Km yang akan terbentang dari Lampung hingga Aceh di tahun 2024, Hutama Karya juga mengantongi portofolio dalam pembangunan infrastruktur lainnya seperti pembangunan Jalan & Jembatan, Bandara, Bendungan, Pelabuhan & Dermaga, hingga pembangunan Proyek EPC.

Salah satu karya emas yang telah dihasilkan oleh perusahaan sekaligus juga bentuk kontribusi Hutama Karya dalam membangun infrastruktur di ujung timur Indonesia adalah Jembatan Youtefa. Jembatan sepanjang 733 meter ini diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke 91 pada 28 Oktober 2019 lalu. Dalam sambutannya kala itu, Jokowi menyampaikan rasa senangnya dapat meresmikan jembatan yang ia impikan di Kota Jayapura tersebut. “Jembatan ini menjadi tonggak sejarah di tanah Papua. Bukan hanya simbol penting yang menyatukan kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air, namun juga simbol sumpah kemajuan untuk membangun Tanah Papua. Tanah Papua harus maju seperti daerah lain di Indonesia karena Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi dan menjadi tugas kita bersama untuk menjaga dan merawat Tanah Papua,” ujarnya saat meresmikan Jembatan Youtefa pada oktober 2019 lalu.

Sejalan dengan tema HUT RI 2020 yaitu 75 tahun Kemerdekaan Indonesia, Indonesia Maju, kehadiran jembatan pelengkung baja terpanjang di Papua ini menjadi cerminan kemajuan infrastruktur di timur Indonesia serta pemerataan pembangunan infrastruktur di Bumi Pertiwi. Direktur Operasi II Hutama Karya, Novias Nurendra mengatakan bahwa Jembatan Youtefa merupakan hasil sinergi 3 BUMN Karya di Indonesia. “Sejalan dengan salah satu item yang ada dalam core values “AKHKLAK” yaitu kolaboratif, jembatan ini dibangun atas kolaborasi antara Hutama Karya dengan PT PP dan Nindya Karya yang pembangunannya memakan waktu 4 (empat) tahun sejak tahun 2015 hingga tahun 2019. Pembangunan jembatan ini menelan biaya sekitar 1,8 triliun rupiah dengan sumber pendanaan dari APBN,” ujar Novias.  

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kehadiran Jembatan Youtefa ini menjadi salah satu solusi permasalahan kepadatan penduduk disana. “Jembatan ikonik ini sepenuhnya merupakan hasil karya anak bangsa dan kami sangat bangga dapat terlibat dalam pembangunannya. Tentu kehadiran jembatan ini memberikan manfaat yang sangat banyak. Salah satu manfaat yang paling terlihat adalah waktu tempuh dari Kota Jayapura jika ingin menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw akan lebih cepat menjadi hanya sekitar 30-45 menit saja, dari semula 1,5 hingga 2 jam. Seperti kita tau Skouw juga menjadi embrio pusat pertumbuhan ekonomi di wilayah perbatasan,” pungkas Novias menjelaskan. 

Jembatan Youtefa membentang sepanjang sekitar 1.800 meter dengan lebar 17 meter. Jembatan tersebut dihiasi oleh dua buah pelengkung baja berwarna merah dan terlihat megah. Selain menjadi ikon baru Kota Jayapura, jembatan ini juga merupakan simbol pertumbuhan ekonomi dan kemajuan infrastruktur di wilayah timur. Dengan warna merah mencolok, pembangunan jembatan ini sempat meraih rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni rekor pengiriman jembatan rangka baja utuh dengan jarak terjauh dan rekor pemasangan jembatan rangka baja utuh terpanjang. 

Teteng marsudi, pedagang asal ponorogo yang menetap di Papua merasa senang atas kehadiran Jembatan Youtefa. Kini ia tak membutuhkan waktu lama untuk menuju perbatasan Skouw, tempat ia berjualan sehari-hari. “Setiap hari saya harus menempuh perjalanan dari Kota Jayapura ke Distrik Muara Tami dan berakhir di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw untuk berjualan bakso menggunakan gerobak motor. Biasanya saya dengan pedagang lain harus memutar hingga berjam-jam. Tapi sekarang dengan adanya jembatan baru ini, perjalanan kami menjadi lebih singkat yaitu hanya 45 menit saja. Selain itu, saya jadi merasa lebih aman untuk pulang di waktu malam. Tidak seperti sebelumnya yang harus menempuh jalan yang berliku dan sepi tanpa penerangan karena jauh dari perumahan penduduk,” tutur Teteng.

Jembatan Youtefa awalnya dinamakan Jembatan Holtekamp. Namun kemudian atas permintaan dari warga adat setempat, namanya diubah menjadi Jembatan Youtefa sesuai dengan posisinya yang berdiri megah di atas Teluk Youtefa. Ketika melintas, di sekitar Jembatan Youtefa terlihat pemandangan laut yang luar biasa indah. Eloknya pesisir Pantai Hamadi hingga Pantai Holtekamp yang berada di bawah jembatan menjadi penyejuk yang menghibur mata. Tidak salah bila jembatan ini menjadi ikon baru kebanggaan rakyat Papua. Selain menghubungkan Kota Jayapura dan perbatasan Skouw, daerah di sekitar jembatan juga bisa menjadi tempat wisata baru di Papua. Pengunjung yang ingin memandangi keindahan jembatan merah ini, bisa melakukannya dari kejauhan saat hari masih terang maupun gelap. Di kala malam jembatan  ini akan diterangi lampu dengan teknologi pengendalian cahaya (Intelligent Color Lighting) yang bisa diprogram atau dikendalikan sesuai kebutuhan dan fleksibel dari segi kombinasi warna maupun tingkat terangnya.