Diketahui, target penerimaan cukai tahun 2021 meningkat 3,6% dibandingkan outlook tahun anggara 2020.

Hingga kini pemerintah masih terus melakukan kajian apakah harus menaikkan cukai rokok pada tahun depan. Isu ini sebelumnya beredar sebagai upaya untuk mengurangi konsumsi rokok dan jumlah perokok di dalam negeri.

Namun Menteri Keuangan Sri Mulyani belum berani menjawab tegas soal isu tersebut. Menurut Sri, pemerintah saat ini masih memfokuskan diri untuk pemulihan ekonomi di tahun 2021 dampak pandemi.

"Untuk cukai saya tidak tahu. Kalau ada pertanyaan spesifik kapan rate naik dan lain-lain saya tidak akan jawab sekarang karena fokus kita kepada keseluruhan APBN jadi saya tidak akan masuk ke dalam satu hal yang sangat spesifik," ujar Sri Mulyani dalam video yang diunggah Kementerian Keuangan, Sabtu (15/8/2020).

Di sisi lain, Sri mengakui penerimaan cukai pada tahun ini hanya tumbuh 36,5%, lebih rendah ketimbang penerimaan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu yang berpengaruh besar dalam penerimaan cukai, adalah cukai rokok.

"Itu pun biasanya akan kami sampaikan pada 2021 atau pada saat kita membahas dengan DPR," katanya.

Diketahui, target penerimaan cukai tahun 2021 meningkat 3,6% dibandingkan outlook tahun anggara 2020. Rinciannya,enerimaan cukai ditargetkan sebesar Rp 178.475,2 miliar (Rp178,47 triliun).

Sedangkan target penerimaan cukai di 2021, terdiri atas cukai hasil tembahau (CHT) sebesar Rp 172,75 triliun, sisanya ditargetkan pada pendapatan cukai MMEA, cukai EA, dan penerimaan cukai lainnya sebesar Rp 5,71 triliun.