Banyak pebisnis milenial yang coba bertahan di tengah pandemi dengan memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Agustus menjadi bulan yang sakral bagi setiap individu rakyat Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia menyambut antusias Hari Kemerdekaan Indonesia yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

75 tahun silam presiden pertama Indonesia yakni Ir. Soekarno bersama Muhamad Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia dengan ditandai pembacaan naskah proklamasi.

Proklamasi digelorakan sebagai penghargaan kepada para pahlawan dan semua orang yang berjibaku menentang segala bentuk penjajahan.

Proklamasi menjadi titik balik kejatuhan kolonialisme dan kebangkitan bangsa Indonesia. Diiringi dengan pekik semangat, benteng kekuasaan kolonial ratusan tahun akhirnya berhasil dirobohkan.

Mau tak mau, suka tidak suka, harus diakui daya rusak penjajahan memang menghancurkan setiap sendi nilai-nilai luhur, kebaikan, mencabik rasa kemanusiaan, serta memporakporandakan tatanan kehidupan lintas generasi.

Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI sejatinya dimaknai sebagai penanda kelahiran suatu bangsa yang bermartabat. Terlebih di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

Peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI untuk tahun ini diperingati di tengah pandemi yang telah mendisdrupsi sendi-sendi kehidupan dan sendi ekonomi di hampir 215 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Ekonomi menjadi salah sektor yang sangat terpukul sejak wabah COVID-19 mendera di tanah air. Kondisi ini tidak membuat para pelaku bisnis, terutama dari kalangan milenial, tak hanya bisa berdiam diri.

Banyak pebisnis milenial yang coba bertahan di tengah pandemi dengan memanfaatkan setiap peluang yang ada. Hal itu juga berlaku bagi pengusaha cafe, Vinnie Rumbayan. Bagi Vinnie, situasi ini tidak lebih dari bagian seleksi alam.

Menurutnya, kondisi ini bisa dihadapi tanpa harus berpangku tangan atas keadaan yang terjadi. Atau dengan kata lain, ia harus membuat terobosan bila tak ingin ikut terjerembab di tengah ketidakpastian sektor ekonomi.

Berangkat dari niat kembali menggerakan roda perekonomian itulah, pemilik Cafe Ms Jackson di bilangan Senopati, Jakarta Selatan ini memutar otak. Ia harus memberi kepastian kepada 100 orang lebih karyawannya untuk tetap bertahan hidup di tengah pandemi, sekaligus memastikan roda ekonomi kembali berputar.

Vinnie mengungkap, karyawannya menganggur sejak empat bulan lalu atau sejak diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta pada April. "Selama PSBB saya memenuhi hak karyawan secara tambal sulam. Dari kas perusahaan hingga kantong pribadi," kata Vinnie.

Untuk memastikan cafe miliknya tetap beroperasi, pengusaha milenial ini membuat minuman lokal yang diracik sedemikian rupa untuk menarik pelanggannya. Vinnie pun mulai meracik minuman lokal pada akhir Mei 2020.

"Dari 100 orang lebih karyawan saya yang praktis menganggur selama PSBB, 15 diantaranya berkatifitas kembali. Yang diracik minuman sejenis cocktail, hanya saja bahan dasar yang kita gunakan dari minuman lokal," jelas Vinnie.

"Selama kegiatan meracik, para karyawan mendapat bayaran. Masalah muncul ketika kegiatan yang kami jalani memasuki minggu ketiga," kata Vinnie.

Pada Rabu 24 Juni 2020 malam, tiba-tiba saja Lei Lo Restaurant miliknya digerebek aparat pemerintah. Penggerebekan dilakukan dengan dasar adanya aduan dari masyarakat, bahwa kegiatan meracik cocktail berbahan dasar minuman lokal itu mengganggu lingkungan sekitar.

Malam itu ada 120 orang aparat dari Bea dan Cukai, dimana lima diantaranya ada lima orang perwira menengah dari POMAD mendatangi Lei Lo Restaurant. Vinnie ketika itu tak berada di tempat.

Mendengar kabar aparat mendatangi Lei Lo, ia pun segera bergegas. Tiba di lokasi ia terkejut melihat banyaknya aparat. "Mereka datang ke Lei Lo seolah-olah ingin menangkap penjahat kelas kakap," katanya.

Vinnie mengatakan, selain berdalih mengganggu masyarakat, aparat juga menudingnya dengan kegiatan pengoplosan. Hal itu membuatnya heran. Menurut dia, jika tudingannya melakulan pengoplosan, hal itu juga dilakukan oleh para pelaku bisnis yang sama dengan dirinya.

"Saya baru tiga minggu menjalankan kegiatan, sementara 'tetangga' saya yang lain sudah berjalan tiga bulan lebih. Kenapa hanya tempat saya yang 'diutak-atik'? Padahal mereka juga melakukan hal yang sama,?" tukas dia.

Dikatakan Vinnie, meracik cocktail merupakan hal lumrah dan umum dilakukan pengelola bar di dunia tak terkecuali di Indonesia. "Seluruh dunia melakukan mixing untuk mempunyai ciri khas dan nilai jual. Di Indonesia nggak cuma saya yang mixing. Kalau ini disebut ngoplos oleh aparat, apa kabar dengan bar yang lain,? Kenapa bar di hotel ternama di jakarta gak di datengin BC,? Mereka juga mixing seperti saya," ucapnya.

Vinnie mengaku tak habis pikir dengan perilaku oknum birokrasi yang memanfaatkan jabatannya untuk menjajah generasi bangsa yang ingin menggerakan roda ekonomi di tengah pandemi.

"Padahal sudah saya jelaskan juga ke aparat, bahwa apa yang sedang saya lakukan ini dalam rangka menggerakan roda ekonomi mikro. Dan saya menjalankan semua sesuai arahan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terkait pengelolaan mitigasi krisis pariwisata di tengah pandemi," papar Vinnie.

"Saat itu juga saya beritahu ke aparat bahwa saya memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Anehnya mereka justru heran saya memegang NPPBKC, saya bilang ke mereka, 'coba tanya ke bos anda kenapa saya bisa pegang izin minuman cukai A, cukai B, cukai C, kan bos anda yang memberi izin'," lanjut Vinnie.

Namun pada akhirnya aparat tetap ngotot bahwa cafe miliknya telah melakukan pengoplosan. Aparat kemudian menyita semua botol, termasuk botol yang tak ada hubungannya dengan penggerebekan, juga lap top milik kantor untuk diamankan.

Vinnie juga mengungkapkan ada yang menarik saat oknum petugas menyita botol. Oknum menanyakan perihal kepemilikan minuman non cukai dan kepemilikan botol non cukai cap Sarinah (PT Sarinah, red).

"Saya tanya balik, 'abang tau nggak Sarinah masih impor atau ngga?' Dia jawab masih, saya lanjut bertanya, 'are you sure? Serius nggak,? Masa Bea Cukai nggak tau Sarinah udah nggak ngimpor minuman?' Terus cap Sarinah yang dijual goceng apa kabar,? Semua pertanyaan-pertanyaan saya nggak dapat jawaban yang memuaskan," papar Vinnie.

"Kan setahu saya Sarinah nggak pernah ngimpor, lantas kenapa botol-botol bercap Sarinah ini ikut disita mereka," tambah Vinnie.

Selang sehari kemudian, dari rekannya Vinnie mendapat kabar bahwa kasus bisa '86' dengan syarat ia harus mentransfer sejumlah uang agar kasus tidak berlanjut.

"Untuk '86'-nya Rp750 juta, nanti botol dan semua barang yang disita bakal dikembalikan atau kalau tidak saya transfer, saya bakal kena pidana dengan ancaman 10 tahun penjara. Oke saya transfer," beber Vinnie.

"Namun setelah itu mereka minta ditransfer lagi sebesar Rp600 juta, kali ini alasannya untuk kas negara. Loh, terus yang Rp750 juta sebelumnya itu untuk siapa,?" ucap Vinnie.

Lebih jauh ia mengatakan, di momentum peringatan HUT ke-75 Kemerdekaan RI yang dirayakan di tengah suasana keperihatinan pandemi virus Corona, sebagai anak bangsa seharusnya saling bahu-membahu mengatasi permasalahan secara bersama sebagai satu kesatuan.

"Apalah arti kemerdekaan jika masih ada oknum aparat yang bertindak seperti penjajah kepada sesama anak bangsa. Kalau masih ada pengusaha yang punya cerita sama seperti saya, apa Indonesia benar-benar sudah merdeka,?" tutupnya.

Sementara Kepala Sub Direktorat Jenderal Humas Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, Deni Surjantoro mengaku belum memonitor kegiatan penindakan yang dilakukan petugas Bea dan Cukai terhadap Lei Lo Restaurant di kawasan Senopati.

“Kita cek dulu nanti ke unit terkait,” kata Deni saat dikonfirmasi wartawan.