Apalagi, importasi saat ini seperti pakaian jadi pun tidak diberlakukan kuota dan pembebasan bea masuk. 

Pelaku industri tekstil dalam negeri menjerit. Pasalnya, tekstil ilegal hasil impor masih saja menganggu. Jika dibiarkan terus menerus, pabrik tekstil dalam negeri sangat mungkin bernasib buruk.

Padahal dengan besarnya potensi pasar dalam negeri, pabrik tekstil nasional dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. 

"Seandainya pasar dalam negeri diisi oleh produk-produk lokal makanya saya yakin percepatan industri ini makin lebih gesit, lebih cepat tumbuh, cepat bangkit lagi. Ini juga diperlukan proteksi dari pemerintah sebagai regulator," ujar Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Rizal T Rakhman dalam acara Market Review IDX Channel, dikutip Kamis (20/8/2020). 

Menurut Rizal, akan berbahaya jika industri tekstil dalam negeri tidak dilakukan proteksi sebaik mungkin. Apalagi, importasi saat ini seperti pakaian jadi pun tidak diberlakukan kuota dan pembebasan bea masuk. 

"Jadi, memang begitu bebas bisa masuk ke pasar dalam negeri. Ini salah satu yang mengganggu kinerja produsen dalam negeri," katanya.

Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia, terdapat perbedaan klaim antara ekspor China ke Indonesia dengan klaim impor Indonesia terhadap produk China. Rata -rata tiap tahun dari 2016 sampai 2019 itu selisihnya bisa mencapai 150.000 ton per tahun. Bahkan di tahun 2019 tercatat selisih mencapai 130.000 ton dan jika dinominalkan sekitar Rp15 triliun. 

"Artinya, kalau nominal sebesar ini adalah barang ini diproduksi di dalam negeri, itu bisa memborong produsen dalam negeri sangat bagus dan angka itu bisa memperkerjakan sekian banyak karyawan, menggerakkan sekian banyak pabrik, menambah devisa negara sekian banyak," ucapnya. 

"Tentunya ini memerlukan proteksi dari pemerintah agar pasar dalam negeri menjadi sumber trigger utama perkembangan atau percepatan industri tekstil nasional," ujar Rizal.