Terkait posisi cadangan devisa (Cadev) Agustus 2020, terjadi kenaikan signifikan. Tapi jangan senang dulu, karena pemerintah menarik pinjaman luar negeri dalam jumlah super jumbo.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), cadev pada akhir Agustus 2020 mencapai US$137 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir Juli 2020 sebesar US$135,1 miliar. Peningkatan cadev ini, terutama dipengaruhi penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan devisa migas.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,4 bulan impor atau sembilan bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," tulis Onny dalam keterangan resminya, Jakarta, Senin (7/9/2020).   

BI pun menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Cadangan devisa ini pun dipandang tetap memadai ke depan, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi.

Pemerintah pada akhir bulan lalu mengantongi pendanaan dari pendanaan dari Green Climate Fund sebesar US$103,78 juta, atau Rp1,5 triliun lantaran mampu mengurangi emisi 20,25 juta ton gas CO2 equivalent sejak 2014 hingga 2016.
Pendanaan hibah ini merupakan bagian dari skema kerja sama Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation atau REDD+ yang didesain untuk mengurangi emisi dari gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan menggunakan insentif keuangan.

Negara berkembang dapat mendapatkan pembayaran berbasis hasil dari aksi yang dilakukan dalam kerangka REDD+. Indonesia dan Brazil menjadi negara berhutan yang berada di posisi terdepan dalam hal menciptakan kemitraan multi-bilateral.

Di sisi lain, total utang luar negeri pemerintah berdasarkan data BI hingga akhir kuartal II 2020, mencapai US$196,5 miliar. Atau setara Rp2.810,34 triliun dengan asumsi kurs JISDOR akhir Juni Rp14.302 per US$. Sementara total utang luar negeri Indonesia pada akhir periode yang sama mencapai US$408,6 miliar atau sekitar Rp5.843 triliun.

Di sisi lain, penerimaan pajak hingga akhir Juli 2020 hanya mencapai Rp 601,8 triliun, anjlok 14,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut pandemi Covid-19 memberikan tekanan besar terhadap tulang punggung pendapatan negara itu.

Ia memerinci, penerimaan pajak migas sebesar Rp 19,8 triliun, sedangkan pajak nonmigas mencapai Rp 582 triliun. "Kami rasakan penerimaan pajak ini tekanannya luar biasa keras," kata Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Senin (24/8/2020).

Pengamat Ekonomi Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan RI, Eric Sugandi mengungkapkan, intervensi BI di pasar valas dalam menjaga stabilitas rupiah pada Agustus cukup moderat. Dengan demikian, cadangan devisa tidak terlalu banyak terkuras.

Berdasarkan kurs JISDOR yang dipublikasikan bank sentral pada akhir Juli, rupiah melemah 2,45% jika dibandingkan posisi akhir Juni 2020. "BI relatif tidak banyak menggunakan cadangan devisa untuk intervensi di pasar valas," ujar Eric, dikutip dari Katadata.co.id, Senin (7/9/2020).

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam menilai cadangan devisa yang meningkat memang akan memberikan keyakinan terhadap pelaku pasar keuangan. Tetapi, cadangan devisa tidak berperan langsung menopang sektor keuangan atau nilai tukar rupiah.

Dia menegaskan, terdapat perbedaan antara suplai valas di pasar keuangan dengan cadangan devisa. "Suplai valas di pasar keuangan bukan cadangan devisa," kata Piter kepada Katadata.co.id. Cadangan devisa adalah valas yang dimiliki dan dikelola oleh BI. Sementara suplai valas adalah valas yang dimiliki sektor swasta yang diperjual belikan di pasar keuangan. Ketika suplai valas di pasar keuangan menurun atau permintaannya meningkat tinggi, bank sentral bisa menggunakan cadangan devisanya untuk menambah suplai valas di pasar keuangan.

Pada perdagangan Senin (7/9/2020), rupiah sempat dibuka menguat di posisi Rp 14.705 per US$, tetapi bergerak melemah. Meski demikian, rupiah hingga pukul 11.25 WIB berdasarkan data Bloomberg masih menguat tipis 0,04% di posisi Rp14.740 per US$.