Pemerintah Kabupaten Belitung menghadapi perlawanan dari para penambang liar.

Bupati Belitung Sahani Saleh hampir saja menjadi korban keganasan para penambang liar di sana. Saat mendatangi lokasi pertambangan tanpa izin, ia sempat dihadang para penambang bersenjata tajam. Dalam upaya penertiban itu, Sahani Saleh tidak melibatkan kepolisian, hanya didampingi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Sekretaris Satpol PP Kabupaten Belitung Alkar mengatakan, peristiwa itu terjadi sepekan lalu di Sungai Berang Desa Bantan, Kecamatan Mebalong, Belitung. Di sana, ada aktivitas pertambangan di kawasan hutan produksi.

“Salah satu angggota kami hampir menjadi korban penusukan. Tiba di lokasi bupati dan belasan anggota kami disambut para penambang yang membawa parang dan pisau. Setelah  mencabut kunci excavator, ada anggota Pol PP Kabupaten Belitung bersitegang. Hingga akhirnya anggota memilih kabur. Namun, salah satu dari anggota yang tak sempat melarikan diri, mau ditusuk, tapi ditolong oleh anggota lain,” kata Alkar seperti dilaporkan rakyatpos.com, Senin, 10 Desember 2018.

Keesokan harinya, bupati kembali mendatangi tempat itu dengan membawa golok untuk berjaga-jaga.

Kejadian itu, kata dia, tak menyurutkan langkah pemerintah setempat untuk menertibkan tambang ilegal. Keesokan harinya, kata dia, bupati kembali mendatangi tempat itu dengan membawa golok untuk berjaga-jaga. Namun, ketika didatangi kembali, tidak ada aktivitas di lokasi pertambangan.

Menurut Alkar, sebagian besar penambang itu bukan warga setempat melainkan pendatang dari Lampung dan sekitarnya.

Sementara itu, upaya penertiban pertambangan pasir timah ilegal juga dilakukan oleh aparat kepolisian gabungan di kawasan hutan lindung Pantai Matras, Sungailiat, pada Senin, 10 Desember 2018.  

Di lokasi, para penambang membangun tenda-tenda kecil untuk menyedot pasir yang mengandung timah. Lokasinya berada di bibir Pantai Matras yang sebenarnya adalah kawasan wisata.

Para pekerja tambang lantas diminta membongkar peralatan tambang. Mereka diberi waktu hingga tiga hari ke depan. Pendekatan persuasif ini dilakukan karena para penambang di sana umumnya adalah masyarakat biasa.

“Kegiatan ini setelah menindaklanjuti informasi masyarakat adanya penambangan liar di daerah Matras. Kita melakukan pengecekan, penyelidikan ke TKP ternyata masuk Hutan Lindung Pantai (HLP). Jadi otomatis kita tertibkan,” kata Kasubdit Tipidter Dirkrimsus Polda Babel, AKBP Wayan Riko.

Dari kabar yang beredar, pertambangan ilegal di kawasan itu dilindungi oleh oknum aparat bersenjata dari kesatuan tertentu.
“Penertiban ini kita lakukan sesuai instruksi Kapolda yang melarang aktivitas tambang di hutan lindung maupun hutan konservasi. Tambang berada di kawasan hutan lindung rata-rata ada di tiap kabupaten namun skala besaran yang berbeda. Yang cukup marak ada di Sungailiat karena banyak laporan dari warga ke kita,” kata Wayan.

Pada hari yang sama, Polda Bangka Belitung juga menggagalkan upaya pengiriman balok timah seberat 2,5 ton yang diduga ilegal saat hendak dibawa ke Jakarta. []

Baca juga laporan khusus:
Indonesia Lemah di Lumbung Timah