Harga minyak melonjak pada Jumat (7/12), setelah OPEC setuju memangkas produksi sebanyak 800 ribu bph dan negara-negara non-OPEC mengurangi produksi sebanyak 400 ribu bph, hingga total pemotongan adalah 1,2 juta bph mulai Januari.

SETELAH Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC setuju memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari mulai Januari 2019, harga minyak kembali menguat, Senin (10/12), melanjutkan tren kenaikan sejak Jumat pekan lalu (8/12). 

Dilansir Reuters, harga minyak Brent naik sebanyak 54 sen atau 0,9 persen dari penutupan sebelumnya menjadi $62.21 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik sebanyak 2 cent menjadi $52.63.

Harga minyak melonjak pada Jumat (7/12), setelah OPEC setuju memangkas produksi sebanyak 800 ribu bph dan negara-negara non-OPEC mengurangi produksi sebanyak 400 ribu bph, hingga total pemotongan adalah 1,2 juta bph mulai Januari.

Para pemimpin organisasi negara-negara penghasil minyak menyetujui pengurangan produksi minyak dalam pertemuan Kamis (6/12) di Wina, namun belum mencapai kesepakatan berapa jumlah produksi yang akan dipangkas. 

Sedangkan Arab Saudi belum menyetujui usulan pemangkasan produksi 1,3 juta barel per hari yang dinilai terlalu berlebihan.

Bulan lalu, harga minyak mentah turun lebih dari 20 persen karena kelebihan minyak mentah di pasar. Para ahli mengatakan pemangkasan produksi dari negara-negara OPEC dan Rusia kemungkinan besar menjadi hasil dari pertemuan Wina.

Pertanyaannya mungkin lebih pada berapa banyak pemangkasan itu. Tanda-tandanya adalah pemangkasan sekitar setengah sampai satu juta barel per hari.

Harga minyak merosot sejak Oktober, setelah Arab Saudi meningkatkan produksinya untuk mengimbangi penurunan ekspor minyak Iran. Amerika mengenakan sanksi terhadap Iran, tetapi juga memberikan pengecualian kepada beberapa pembeli minyak mentah Iran. 

Arab Saudi, pemimpin de facto OPEC, ingin mengurangi hasil produksi untuk menghindari kelebihan minyak di pasar global tahun depan demikian pula Rusia, yang bukan anggota OPEC. Arab Saudi di tekan oleh Presiden AS Donald Trump, yang mengatakan kenaikan harga minyak akan menyebabkan gejolak.

Pada pertemuan di Abu Dhabi 11 November lalu para pejabat minyak dari seluruh dunia mengisyaratkan mereka siap untuk melakukan pemangkasan produksi.

"Pertanyaannya mungkin lebih pada berapa banyak pemangkasan itu. Tanda-tandanya adalah pemangkasan sekitar setengah sampai satu juta barel per hari. Sejak itu sudah ada tanda-tanda mungkin perlu lebih dari itu bahkan mungkin sampai 1,4 juta barel per hari," kata analis Spencer Welch.

Pada pertemuan G-20 di Argentina, Presiden Rusia Vladimir Putin mengukuhkan ada konsensus mengenai masalah tersebut di antara para produsen minyak.

"Ya, kita punya perjanjian untuk memperluas kerja sama kita. Tidak ada keputusan akhir mengenai volume, tetapi kita akan melakukannya bersama dengan Arab Saudi," ujar Putin.

Undang-undang anti trust AS tidak mengizinkan pemangkasan produksi untuk manipulasi harga karena industri minyak Amerika yang terfragmentasi. Produksi minyak AS meningkat dalam beberapa tahun terakhir berkat kemajuan teknologi, dan diperkirakan akan terus tumbuh pada 2019.

Rusia, Arab Saudi dan Amerika bersaing menjadi produsen minyak mentah teratas dalam beberapa tahun terakhir. []

">