Apa yang dikatakan Donald Trump itu langsung ditanggapi oleh Direktur Komunikasi Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO), Gabby Ster. Dalam cuitannya, Gabby Ster membantah pernyataan Donald Trump yang kerap menyebut jika WHO berada di bawah kendali negara tertentu

Seolah tak peduli tempat dan situasi, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menyerang China terkait pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 dalam pidatonya daat pertemuan virtual Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama dengan pemimpin dunia lainnya. 

Tak tanggung-tanggung, Donald Trump menyebut COVID-19 sebagai 'virus China' dan mendesak PBB meminta pertanggungjawaban Beijing dan Presiden Xi Jinping. Donald Trump menuduh Beijing 'mengizinkan penerbangan meninggalkan China dan menginfeksi dunia' dan 'secara virtual mengontrol' Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Apa yang dikatakan Donald Trump itu langsung ditanggapi oleh Direktur Komunikasi Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO), Gabby Ster. Dalam cuitannya, Gabby Ster membantah pernyataan Donald Trump yang kerap menyebut jika WHO berada di bawah kendali negara tertentu.

"WHO memiliki 194 Negara Anggota; tidak ada pemerintah yang mengontrol kami," tulisnya.

Menanggapi tantangan multilateralisme, Donald Trump mengatakan bahwa para pemimpin global seharusnya terlebih dahulu menempatkan negaranya masing-masing sebagai prioritas.
 
"Selama beberapa dekade, suara yang sama mengusulkan solusi gagal yang sama untuk mengejar ambisi global dengan mengorbankan rakyat mereka sendiri, tapi hanya ketika Anda menjaga warga negara Anda sendiri, Anda akan menemukan dasar yang benar untuk (membangun) kerja sama," kata Donald Trump.
 
"Sebagai presiden, saya menolak pendekatan yang gagal di masa lalu dan saya dengan bangga mengutamakan Amerika, sama seperti Anda yang harus mengutamakan negara Anda. Tidak apa-apa. Itulah yang harus Anda lakukan," lanjutnya.

Sementara itu dalam pidatonya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut krisis kesehatan 'sebagai "momen kita pada 1945', merujuk Perang Dunia II. Dia menggambarkan COVID-19 sebagai virus beracun yang mengguncang dasar demokrasi di banyak negara.
 
Pernyataan Guterres juga menyinggung tentang meningkatnya kemiskinan global dan retaknya hubungan diplomatik. Dia memperingatkan kebuntuan yang semakin pahit antara China dan AS yang hubungan diplomatiknya bergerak 'ke arah yang sangat berbahaya'.