Para ilmuwan masih menyelidiki bagaimana cerpelai bisa terinfeksi dan apakah mereka dapat menyebarkannya ke manusia. Beberapa dari mereka mengatakan sejumlah cerpelai mungkin tertular virus dari pekerja yang terinfeksi

Dokter hewan dan petani Denmark Utara bekerjasama untuk memusnahkan setidaknya 2,5 juta ekor cerpelai menyusul ditemukannya hewan yang terinfeksi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 paling tidak sekitar 63 peternakan.

Flemming Kure Marker dari lembaga pemerintah mengatakan bahwa pemusnahan hewan-hewan berbulu yang terinfeksi itu ditangani oleh Administrasi Makanan dan Hewan Denmark, sementara peternak yang memiliki hewan yang tidak terinfeksi di sebuah peternakan dalam jarak delapan kilometer dari peternakan yang terinfeksi harus memusnahkannya sendiri.

"Kami bergerak maju, kami menyelesaikannya," katanya tentang pemusnahan yang dimulai Kamis di desa Gjoel, barat Aalborg, seraya menambahkan itu bisa berlangsung berbulan-bulan, tergantung pada penyebaran virus, seperti dikutip dari 9News, Selasa (13/10/2020).

Bukan tanpa rintangan, pemusnahan hewan-hewan ini mendapat beberapa penolakan dari sejumlah pemilik peternakan. 

“Pada hari Jumat, seorang petani cerpelai menolak untuk membiarkan pihak berwenang memasuki peternakannya untuk memusnahkan hewan dan petugas terpaksa memotong gembok mereka,” kata juru bicara polisi Henrik Skals. 

“Selama akhir pekan, segelintir pengunjuk rasa disingkirkan di luar dua peternakan cerpelai,” tambahnya. 

Pemerintah mengatakan peternak dengan cerpelai yang tidak terinfeksi akan mendapatkan kompensasi 100 persen sementara mereka yang memiliki hewan yang terinfeksi akan menerima lebih sedikit sebagai insentif bagi peternak untuk menjauhkan infeksi dari kawanan mereka.

Denmark merupakan salah satu negara pengekspor bulu cerpelai terbesar di dunia dan memproduksi sekitar 17 juta bulu per tahun. Kopenhagen Fur, sebuah koperasi yang terdiri dari 1.500 peternak Denmark, menyumbang 40 persen dari produksi cerpelai global. Sebagian besar ekspornya ke China dan Hong Kong. 

“Pandemi virus korona dapat mengancam seluruh profesi. Semua peternak saat ini berada dalam ketidakpastian dan frustrasi yang sangat besar atas 'meteor' yang telah menimpa kepala kita," kata Tage Pedersen, ketua Asosiasi Peternak Cerpelai Denmark. 

Para ilmuwan masih menyelidiki bagaimana cerpelai bisa terinfeksi dan apakah mereka dapat menyebarkannya ke manusia. Beberapa dari mereka mengatakan sejumlah cerpelai mungkin tertular virus dari pekerja yang terinfeksi. Pihak berwenang Belanda sempat mengatakan beberapa pekerja pertanian kemudian tertular virus dari cerpelai yang terinfeksi. 

Pada bulan Agustus, Belanda mengajukan penghentian wajib pertanian cerpelai selama tiga tahun hingga 2021 di tengah meningkatnya jumlah infeksi virus korona di peternakan bulu. Di Polandia, eksportir bulu cerpelai besar lainnya, koalisi sayap kanan yang berkuasa dan oposisi sangat terpecah belah atas undang-undang baru yang akan melarang peternakan bulu.

Para penentang mengatakan undang-undang tersebut akan menghancurkan mata pencaharian ratusan petani cerpelai.