Pada perdagangan hari ini (Selasa sore, 5/1/2021), nilai tukar (kurs) rupiah menclok Rp13.915 per dolar AS. Melemah ketimbang kemarin. pertanda mata uang Garuda memang rapuh.

Mata uang rupiah melemah 0,14 persen jika dibandingkan perdagangan Senin sore (4/1/2021) yang bereada di level Rp13.895 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.945 per dolar AS, atau melemah tipis dibandingkan posisi hari sebelumnya yakni Rp13.903 per dolar AS.

Dikutip dari CNNIndonesia, sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,27 persen, peso Filipina melemah 0,52 persen, rupee India melemah 0,12 persen, yuan China melemah 0,04 persen, ringgit Malaysia melemah 0,16 persen, dan bath Thailand terpantau melemah 0,15 persen.

Sebaliknya, yen Jepang menguat 0,20 persen, dolar Singapura menguat 0,01 persen, dan dolar Taiwan menguat 0,36 persen. Sedangkan, mata uang di negara maju bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,13 persen dan dolar Australia melemah 0,52 persen. Sedangkan dolarKanada menguat 0,33 persen dan franc Swiss menguat 0,64 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan dolar AS disebabkan peningkatan kasus covid-19 yang membelenggu pergerakan aset berisiko. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, pada Senin (4/1/2021), memerintahkan penguncian nasional yang lebih ketat untuk menahan lonjakan kasus covid-10 di negaranya.

Johnson mengatakan, kebijakan lockdown atau penguncian wilayah baru akan dilonggarkan pada pertengahan Februari jika peluncuran vaksin berjalan sesuai rencana dan jumlah kematian menurun seperti yang diharapkan. "Penguncian nasional baru di negaranya juga telah membuat investor beralih ke aset safe-haven," ucap Ibrahim melalui keterangan tertulis.

Dari dalam negeri lonjakan kasus covid-19 serta vaksinasi yang diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama juga ikut memberikan sentimen negatif terhadap mata uang garuda.

Inflasi sebesar 1,68 persen yang menunjukkan mulai bergeraknya ekonomi, juga tak mampu mendorong penguatan rupiah. "Data internal yang positif tidak mampu mengangkat mata uang rupiah di sore ini, karena data eksternal yang kurang bersahabat sehingga arus modal asing kembali keluar pasar finansial dalam negeri, wajar kalau rupiah ditutup melemah," tuturnya.

Dalam perdagangan sore ini, Ibrahim memprediksi rupiah ditutup melemah 20 poin di level Rp13.915 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp13.895 per dolar AS. "Sedangkan untuk perdagangan besok pagi, mata uang rupiah kemungkinan dibuka melemah di level Rp13.900 per dolar AS sampai Rp13.960 per dolar AS," tandasnya.