Pandemi Corona belum minggat dari Nusantara, benar-benar bikin pening pebisnis. Khususnya kelas rendahan, termasuk pemilik waeung tegal alias warteg.

Komunitas Warteg Indonesia (Kowantara) menyatakan 20 ribu warteg di Jabodetabek bakal tutup tahun ini. Ini terjadi karena pengelola warteg tak mampu membayar perpanjangan sewa tempat usaha.

Ketua Kowantara Mukroni menjelaskan modal usaha pemilik warteg sudah tergerus habis-habisan akibat pandemi covid-19. Pasalnya, semenjak pandemi merebak rata-rata omzet warteg anjlok hingga 90 persen. "Ini kan sudah setahun, tahun ini harus perpanjang sewa kontrak. Sementara modal sudah pas-pasan. Untuk bayar karyawan berat, apalagi untuk bayar sewa," ucap Mukroni, dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (13/1/2020).

Ia menuturkan jumlah warteg di Jabodetabek sekitar 40 ribu-50 ribu. Ia memperkirakan ada penutupan warteg hingga 50 persen atau sekitar 20 ribu warteg. "Kalau tahun lalu saja sudah 25 persen pulang kampung. Kalau tahun ini bisa 50 persen, berarti 20 ribu warteg. Tapi itu angka bisa naik lagi mungkin karena kondisi seperti ini, bisa saja sampai 75 persen," kata Mukroni.

Menurut Mukroni, pandemi membuat daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah melemah. Pasalnya, banyak karyawan yang dirumahkan hingga terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga pendapatannya menurun. "Daya beli turun. Mereka sudah pelit, tadinya mungkin royal," imbuh Mukroni.

Terlebih, penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali juga menambah derita bagi pengusaha warteg. Sebab, mereka harus menutup warungnya maksimal pukul 19.00 WIB. Selain itu, beban pengusaha warteg juga bertambah akibat beberapa harga pangan naik. Beberapa harga bahan yang naik, seperti cabai, tahu, dan tempe.

Berdasarkan laporan yang ia terima, penutupan warteg kemungkinan besar terjadi di Jakarta. Hal ini karena biaya sewa di Jakarta lebih mahal ketimbang di wilayah pinggiran Jakarta. "Tapi mau pindah ke pinggiran Jakarta sama saja, karena tahun ini kan tetap harus bayar perpanjang sewa," ujar Mukroni.

Menurut dia, sulit bagi pengusaha untuk bertahan. Pasalnya, belum ada kepastian bahwa daya beli masyarakat akan membaik tahun ini.
"Pada 2021 kan sempat ada gambaran bagus, tapi ternyata kondisi tidak jelas. Rumah sakit penuh, kasus penularan meningkat. Ini gambaran kami, sementara modal usaha tidak ada. Harapan ke depan tidak jelas. Jadi lebih baik tutup," jelas Mukroni.