Trump terkonfirmasi positif COVID-19 pada Oktober 2020 lalu.

Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn mengatakan, Jerman akan menjadi negara Uni Eropa pertama yang menggunakan pengobatan antibodi eksperimental, yang dikonsumsi Donald Trump untuk sembuh dari COVID-19.

Spahn menungkap, Jerman sudah membeli 200.000 dosis seharga 400 juta euro atau setara Rp6,8 triliun. Adapun harga per dosisnya mencapai 2.000 euro atau setara Rp34,15 juta.

"Pemerintah sudah membeli 200.000 dosis seharga 400 juta euro. Harga per dosisnya adalah 2.000 euro," kata Spahn kepada suarat kabar Bild am Sonntag.

Jerman membeli campuran antibodi Casirivimab/Imdevimab dari Regeneron, serta obat antibodi Bamlavinimab dari perusahaan AS lainnya, Eli Lilly.

Diketahui, mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkonfirmasi positif COVID-19 pada Oktober 2020 lalu.

Ia sempat dirawat di rumah sakit dengan pengobatan Regeneron sebelum mendapat izin resmi. Presiden AS ke-45 tersebut menyebut pengobatannya berfungsi secara luar biasa.

Versi Regeneron adalah kombinasi campuran dari dua antibodi buatan laboratorium. Protein pelawan infeksi dikembangkan untuk mengikat protein permukaan virus corona, agar menghentikannya menyerang sel-sel manusia. Obat dari Eli Lilly cara kerjanya juga sama, tetapi menggunakan satu antibodi sintetis.

Keputusan Jerman menggunakan obat-obatan yang belum disetujui European Medicines Agency (EMA) ini dilakukan saat vaksinasi COVID-19 berjalan lebih lambat dari perkiraan Uni Eropa.

Jerman telah mencatat 2.134.936 kasus COVID-19 dengan 51.870 kematian, menurut data terbaru dari badan pengendalian penyakit menular Robert Koch Institute (RKI). 

Juru bicara Kementerian Kesehatan Jerman berkata ke AFP, para pasien COVID-19 akan mendapatkannya secara gratis.

Juru bicara menerangkan, regulator nasional Jerman di Institut Paul Ehrlich (PIE) menetapkan penggunaan obat prinsipnya diizinkan berdasarkan kasus per kasus, diputuskan oleh dokter.

Izin juga dikeluarkan untuk mencegah penyakit bertambah parah, atau melonjaknya pasien rawat inap di kelompok berisiko tertentu.

Dua jenis obat yang disebut terapi antibodi monoklonal itu akan tersedia di rumah-rumah sakit universitas mulai minggu ini.

Spahn menerangkan, Jerman adalah negara pertama di Uni Eropa yang menerapkannya dalam perang melawan pandemi virus corona.

Kedua obat tersebut sudah mendapat persetujuan darurat di Amerika Serikat (AS), meskipun belum memiliki izin dari regulator Eropa.