Dicky menganggap kalau kasus COVID-19 di Indonesia seharusnya sudah melebihi 3 juta orang. Sedangkan kasus 1 juta itu dicapai Indonesia pada September 2020 lalu

Jumlah kasus Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 di Indonesia mencapai 1.012.350 per Selasa (26/01/2021). Namun angka itu dinilai masih kecil dari jumlah sebenarnya.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menilai justru jumlah penyebaran kasus COVID-19 yang sebenarnya bisa tiga kali lipat dari data yang disampaikan pemerintah tersebut.

Dicky mengatakan, bila dibandingkan dengan negara dalam kelompok 20 besar kasus tertinggi di dunia, kemampuan testing di Indonesia lebih rendah. Indonesia hanya mampu melakukan testing 32.000 per 1 juta populasi di tanah air.

"Ini satu performa testing yang rendah sekali," kata Dicky Budiman di Jakarta, Selasa (26/01/2021).

Kemudian jika dibandingkan lagi dengan negara terdekat yang juga memiliki 1 juta kasus COVID-19, mereka mampu melakukan testing 5 hingga 6 kali lipat lebih banyak daripada Indonesia.

Karena itu, Dicky menganggap kalau kasus COVID-19 di Indonesia seharusnya sudah melebihi 3 juta orang. Sedangkan kasus 1 juta itu dicapai Indonesia pada September 2020 lalu.

Dalam arti lain, banyak kasus penularan COVID-19 di Indonesia yang belum diketahui atau terdeteksi karena rendahnya testing tersebut.

"Apa yang terjadi dengan satu juta kasus itu bukanlah kasus yang sebenarnya. Sebenarnya tiga kali lipat saat ini yang terjadi di Indonesia. Satu persen dari total populasi," tuturnya.

Dengan demikian, menurut Dicky, pemerintah Indonesia bukan lagi merespon karena kasus sudah mencapai 1 juta. Karena masalah yang terjadi itu jauh lebih besar ketimbang angka tersebut.

"Saat ini sudah bukannya saat hanya merenung. Saat ini saatnya untuk segera bertindak merespon, karena situasi sudah sangat serius," katanya.