Rizal sudah berteman dengan Din Syamsuddin sejak lama. Rizal juga membagikan foto dirinya bersama Din ketika berada di Boston, Amerika Serikat. Sehingga Rizal Ramil tahu betul sosok Din Syamsuddin

Tuduhan dari Gerakan Anti Radikalisme Alumni Institute Teknologi Bandung (GAR-ITB) kepada mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Drs. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, M.A., atau dikenal dengan Din Syamsuddin dengan sebutan tokoh radikal, menyisakan banyak komentar dan perdebatan.

Tak terkecuali, Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia yang juga seorang Ekonom, Rizal Ramli juga turut berkomentar terkait tudingan GAR-ITB tersebut. Rizal Ramli yang juga alumni ITB, menyesalkan adanya tuduhan radikal dari segelintir alumni pada Din Syamsuddin.

"ITB kampus yang menghasilan tokoh-tokoh, pemikir-pemikir besar, engineer hebat. (Seperti) Soekarno, Habibie, Rooseno, Sutami," ujar Rizal di Akun Twitter pribadinya, Jumat (12/02/2021).

"Eh ternyata sebagian kecil alumninya berfikiran cupet, terlalu banyak gaul dengan intel, jadi organ surveilance swasta, (pengawas) tokoh-tokoh yang dicap 'ekstrimis'. Dulu Soekarno dan kawan-kawan juga dicap ekstremis oleh Belanda dan antek-antek-nya," ujar Rizal Ramli.

Baik Rizal Ramil dan Din Syamsuddin merupakan lulusan ITB. Rizal sudah berteman dengan Din Syamsuddin sejak lama. Rizal juga membagikan foto dirinya bersama Din ketika berada di Boston, Amerika Serikat. Sehingga Rizal Ramil tahu betul sosok Din Syamsuddin karena pertemanan mereka sampai sekarang masih terjalin dengan baik.

Lebih lanjut, Rizal mengaku tidak habis pikir dengan sikap GAR ITB. Terlebih mereka melaporkan Din ke KASN dengan tudingan radikalisme.

"Norak abis, jadi organ quasi-intel, kerdil, cetek dan nora amat," kata Rizal.

Tak hanya Rizal Ramli, pelaporan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin oleh GAR-ITB ke Komite Aparatur Sipil Negara (KASN) dengan tuduhan radikalisme dinilia Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto A. Hakim, sebagai fitnah yang sangat keji.

"Ini adalah tuduhan dan fitnah keji yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kepada seorang tokoh dan pemimpin muslim penting tingkat dunia yang sangat dihormati karena dalam waktu yang panjang telah mempromosikan wasatiyatul Islam atau Islam moderat di berbagai forum dunia," tegas Sudarnoto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (12/02/2021).

Dia sangat menyesalkan tindakan kelompok yang dengan sengaja telah mendiskreditkan dan menyudutkan Din Syamsuddin sebagai bagian dari kelompok radikal. Sebab, jasa dan peran penting Din Syamsuddin secara nasional dan internasional sangat berarti bagi bangsa dan negara, dalam hal ini mengarus utamakan wasatiyatul Islam.

"Prof. Din anti radikalisme atas nama dan untuk motif apapun serta siapapun yang melakukannya. Terlalu banyak bukti dan rekam jejak Prof. Din yang bisa dicermati untuk memahami pandangan dan sikapnya terhadap radikalisme dan bagaimana menangani radikalisme," kata Sudarnoto.

Bahkan, sambungnya, sosok mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu tidak segan-segan mengkritik siapapun yang menangani radikalisme-ekstrimisme dengan cara-cara radikal dan ugal-ugalan.

"Jadi, laporan dan tuduhan radikalisme yang dialamatkan kepada Prof. Din adalah fitnah keji dan merupakan sebuah kebodohan," cetusnya. 

GAR ITB melaporkan Din Syamsuddin sebanyak dua kali. Pertama pada 28 Oktober 2020 dan tertera dalam surat nomor 05/Lap/GAR-ITB/X/2020. Kedua, pada 28 Januari 2021 dan tertuang dalam nomor 10/Srt/GAR-ITB/I/2021.