Merokok membuat tangan akan lebih sering bersentuhan dengan bibir.

Perokok disebut rentan terinfeksi virus Corona karena interaksi tangan dan mulut yang sering. Hal itu dikatakan Anggota Satuan Tugas Waspada dan Siaga COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Erlina Burhan.

Dalam diskusi yang diadakan Komite Nasional Pengendalian Tembakau secara daring di Jakarta pada Selasa kemarin, Erlina mengatakan, salah satu penularan COVID-19 dapat terjadi dengan perpindahan virus dari tangan ke mulut.

Merokok membuat tangan akan lebih sering bersentuhan dengan bibir. "Orang merokok tidak mungkin tidak menyentuh wajah ataupun bibir. Biasanya frekuensinya sangat sering," kata Erlina, yang juga dokter spesialis Paru.

Paparan asap dari rokok dapat melemahkan saluran pernapasan dan mengurangi kemampuan sistem imun tubuh dalam melawan kuman, termasuk COVID-19.

"Ini yang membuat perokok mudah mengalami infeksi COVID-19. Pandemi adalah saatnya untuk berhenti merokok," ujarnya.

"Dengan asap rokok, kemampuan sistem pernapasan untuk bertahan lebih lemah, sehingga kalau ada Corona akan gampang masuk dan jadi sakit,"  katanya.

Lebih jauh ia juga meminta media ikut melakukan publikasi ilmiah tentang hubungan perilaku merokok dan COVID-19.

"Media massa adalah jembatan informasi dari publikasi ilmiah kepada masyarakat. Rokok dan COVID-19 terus berkembang sehingga publikasi melalui media perlu selalu diperbarui," katanya.

Erlina mengatakan penelitian tentang COVID-19 akan terus berkembang, begitu juga dengan hubungan rokok dengan COVID-19.

"Selain memberikan informasi terbaru tentang COVID-19 dan hubungan rokok dengan COVID-19, media juga perlu menekankan pengetahuan tentang COVID-19 dan dampak buruk rokok yang selama ini telah diketahui masyarakat, tetapi sering dikesampingkan," ucapnya.

Erlina mengingatkan media agar berhati-hati dan bertanggung jawab dalam menafsirkan publikasi ilmiah menjadi sebuah berita.

Pada awal pandemi COVID-19, penelitian di Wuhan, China, memang menyatakan merokok tidak termasuk faktor risiko kematian pada pasien COVID-19. 

"Namun, kemudian ditemukan hubungan signifikan antara riwayat merokok dengan COVID-19 gejala berat. Pasien COVID-19 dengan riwayat merokok dan/atau perokok aktif secara signifikan lebih berisiko mengalami gejala berat," katanya.