Serikat pekerja PT Pegadaian (Persero) mengklaim, sebagian besar karyawan Pegadaian menolak pembentukan holding ultra mikro. Di mana, Pegadaian melebur ke BRI bersama PNM.

Sebanyak 95 persen karyawan PT Pegadaian (Persero). Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Pegadaian, Rosyid Hamidi, Jakarta, Senin (22/2/2021). Menurutnya, penolakan tersebut didokumentasikan lewat video dan gambar dari seluruh cabang serikat pekerja.

Ia mengungkapkan, jumlah karyawan PT Pegadaian yang tersebar di seluruh Indonesia saat ini sebanyak 13.600 orang. Angka itu melengkapi jumlah 4.000-an outlet yang berada di wilayah Indonesia.  “Mungkin lebih dari 95 persen. Penolakannya merata di seluruh Indonesia. Kami menghitungnya dari video dan gambar foto yang dikirimkan dari seluruh cabang,” ujar Sekjen Rosyid.

Karyawan senior PT Pegadaian ini mengatakan bahwa selama dua minggu terakhir, hampir setiap cabang dan wilayah mengirimkan dokumentasi foto dan video penolakan holding. Terakhir, karyawan di cabang Cikarang dan Blitar yang mengirimkan langsung dokumentasi aksi penolakan kepada dirinya.

Ia pun meminta manajemen dan pemerintah untuk tidak mengabaikan tuntutan karyawan. Pasalnya, jika terus menerus diabaikan, Rosyid khawatir karyawan akan mengekspresikan penolakan dengan cara-cara yang lebih militan.  “Aksi penolakan ini semestinya didengar dan diperhatikan pemerintah. Jika terus diabaikan, kami khawatir resikonya menjadi semakin besar,” ungkapnya.

Aspirasi Serikat pekerja Pegadaian mendapat dukungan Anggota Komisi XI DPR, Kamrussamad. Dia menyatakan turut menolak rencana pembentukan Holding BUMN ultra mikro.

Seperti diketahui, Kementerian BUMN berencana menggabungkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai perusahaan induk, dengan PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero/PNM).

Menurut Kamrussamad, ketiga perusahaan tersebut memiliki segmentasi bisnis yang berbeda. Dimana, segmentasi Pegadaian dan PNM ialah untuk pemenuhan kebutuhan pedagang kecil atau ultra mikro yang mayoritas belum bankable.

“Selamatkan nasib pedagang kecil, emak-emak, kelompok ultra mikro! Mereka berdagang karena semangat agar bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Segmen ini tidak bisa dijangkau BRI,” katanya, dikutip dari akun twitter @kamrussamad_ks, Jumat (12/2/2021).

Politisi Gerindra ini meminta agar aksi korporasi ini tidak berlanjut untuk mempertahankan core business-nya masing-masing.
“Karena itu PNM Harus dipertahankan berdiri sendiri tanpa Holding!,” tegas dia.